Kamis, 15 Januari 2015

A Bestfriend Story

part kali ini dikuasai sama Damar  dan Ana POV-,-

Damar AthalahasyaPOV


Bell istirahat udah bunyi dari beberapa menit yang lalu, tetapi lelaki yang diketahui bernama Damar ini masih diam didalam kelasnya, padahal kedua temannya Daniel dan Farid sudah pulang terlebih dahulu.

"ngapain gue bengong aja disini. ngga jelas deh" rutuk dirinya sendiri.

'tap tap tap'

Gue -Damar- menusuri koridor sekolah yang sudah sangat sepi, bahkan gue rasa cuma ada gue satu satu nya orang yang belum juga meninggal kan sekolah.
Ntah kenapa gue kangen banget sama Ana, udah lama kita ngga ngobrol bareng, main bareng, bercanda bareng.
Jujur, gue kangen Ana.
Ntah setan apa yang merasuki tubuh gue sekrang, kaki gue malah menuju ke kelas Ana, yang gue yakin Ana pasti udah pulang.

'dugh'

gue menabrak seseorang, sepertinya.
orang itu terisak. Sepertinya dia menangis.
Tapi, ada yang aneh.
gue kenal suaranya. Ana, iya ini Ana. tapi, kenapa dia nangis? dia di hukum?

"Ana" dia tidak menjawab, malah dia menatap ku dengan tatapa membunuh. Apa dia kerasukan? mustahil
"Ana, lo kenapa, na?"
"siapa yang bikin lo begini? bilang sama gue, na"

Jujur, gue panik. Panik banget, apalagi pas ngeliat kondisi Ana saat ini, dia kurusan, rambutnya berantakan, kelopak matanya menghitam, dan sangat lusuh. Tapi tunggu dulu, ada sesuuatu yang mengganjal, tangannya memerah, bajunya ada bercak darah. ada apa dengan Ana?

"Ana?"

'bugh'

dia langsung meluk gue, dalam sekejap baju gue udah basah karena tumpahan air dari mata Ana, yaa no problem lah buat orang yang gue sayang.

tubuh Ana semakin lemas, dia pingsan. Gue bingung harus bawa dia kemana. karena, gue gatau rumahnya. bodoh.

"loh, ini Ana.." ucap seseorang daari depan gue, itu Naomi. jadi mereka belum pulang? Sekarang kondisi gue lagi meluk Ana, sangat erat karena sekarang kondisi Ana pingsan.

"nanti aja gue jelasinnya, sekarang bantu gue bawa Ana, dia pingsan" ucap gue ke arah Ka Vero, Devan, Naomi, Calis, dan gebetannya Naomi, kallau tidak salah namanya Aldo.

"kalian pulang duluan, gue masih ada rapat OSIS, nanti motornya Damar gue yang bawa" ucap Ka Vero dengan tegas, dan mengecup puncak kepala Ana. Bayangin aja, masih SMA saja sudah banyak kegiatan, dan terlalu sibk, apalagi sudah bekerja? gue rasa dia jadi workholic.


---


"...jadi gitu, gue ngga tau kenapa Ana bisa nangis kaya gitu. tiba tiba gue ketemu dia terus dia lagi nangis, terus gue tanya dia malah ngga jawab." ucap gue panjang lebar ke Ka Vero dibalkon kamar Ana. Sampai sekarang Ana belum sadar juga.

"cewe lo mungkin, bisa aja kan dia ga suka sama hubungan lo berdua?" ucap Ka Vero. Ahh yaa, gue lupa, sekarang gue udah punya pacar namanya Jenny, sebenernya juga gue sih ogah amit amit pacaran sama dia.

Tapi, ada benernya juga sih sama yang dibilang ka Vero, tapi kan ga mungkin banget.


---


-Deandra Kireina POV-


Aku mengerjapkan mata ku beberapa kali, ruangan ini sudah dipenuhi oleh beberapa manusia, ada Kak Vero, Naomi, Calis, Devan, Aldo, dan...., Damar. 
Apa? Damar? untuk apa dia ada disini?

Aku mencoba mengingat kembali kejadian tadi disekolah..., ahh, aku tidak ingat.. aku hanya ingat ketika Jenny menyiksa ku ditoilet.

-flashback on-

bell istirahat sudah berbunyi, Ka Vero, Devan, Naomi, dan Calis sedang berada dikantin, aku izin ke toilet kepada mereka.

"ehh, ada kesayangannya Damar.." ucap seseorang yang kuketahui bernama Jenny. Kekasih Damar.

aku hanya diam, tak menanggapai apa yang Jenny ucapkan.

Dia mendekat ke arah ku.

Aarrgh, sial.

Aku terkurung. Kini tangan nya sudah berada dikedua sisi kepala ku. Aku di kabedon (bahasa jepang) olehnya.

"hah, mau kemana lo. CANTIK?" ucapnya. Apa dia bilang? cantik? ya aku memang cantik.
"mau teriak? teriak aja. panggil tuh body guard lo, Damar" lanjutnya.

Mengapa aku terlalu bodoh? mengapa untuk keadaan seperti ini mulut ku tak sanggup untuk bergerak, tak sanggup untuk berbicara? Seakan-akan aku mati rasa.

Apa lagi ini? Menggapa kepala ku terasa berdenyut? Aku tersadar bahwa kini Jenny sudah menarik rambut ku dengan biadab. Mengapa suasana toilet kini sangat sepi? padahalkan ini jam istirahat.

"mau apa lo?! sekarang lo gabisa apa apa, lo mau teriak juga percuma, ga bakalan ada yang denger teriakan lo!!" ucap Jenny sambil menarik kembali rambut ku, ahkan lebih biadab dari sebelumnya.

"awwhh, shh.. am-ampun..lepasin please." ucap ku. Jujur, ini sangat sakit. Bahkan keluarga ku pun elum pernah ada yang  berani berbuat seperti ini.

"lepasin? gue ngelepasin orang kaya lo? NAJIS banget!!"

'dugh'

Jenny menjedukan kepala ku ke tembok, aku merasakan ada sesuatu yang mengalir di pelipis ku. Amis. aku yakin pelipis ku sudah dipenuhi oleh cairan berwarna merah itu. Darah.

aku terjatuh dilantai kamar mandi, dan aku merasakan bahwa mereka -Jenny dkk- sudah menjauhi, bahkan meninggalkan ku.


---


Aku tersadar, aku masih berada ditoilet, aku melirik jam tangan ku. sudah waktunya jam pulang sekolah, berarti aku meninggal kan 6 jam matapelajaran terakhir.

"shh, aww.." aku memegang pelipisku, darahnya sudah mengering. Perih kini yang ku rasakan.


Aku melangkah kan kaki ku di koridor sekolah yang sudah sangat sepi, bahkan aku yakin bahwa hanya aku satu satunya siswi yang masih ada di dalam koridor ini, selain anak esskul musik, dan basket.

Aku menusuri koridor sekolah ini dengan langkah yang lebar dan terkesan buru-buru, wajah ku aku tundukan, karena aku tidak mau ada seorang pun yang melihat ku dengan wajah yang sembab ini, dan juga penampilan ku yang urakan ini, dan juga airmata yang masih mengalir deras diwajahku. Ya, aku menangis setelah sadar tadi.

Aku tidak mengikuti pelajaran 6 jam terakhir, dan aku yakin Naomi, Calis, Ka Vero mengkhawatirkan ku. Mereka pasti bingung aku ada dimana. Hari apa ini? Jum'at? ahh sial, aku lupa bahwa hari ini Kak Vero ada rapat OSIS, dan aku yakin pasti nanti aku akan bertemu dengan dirinya kalau sampai saat ini aku masih ada diwilayah sekolah. Apalagi jam segini, pasti apat belum akan dimulai dan pasti ia akan melihat diriku disini.

'dugh'

sepertinya aku menabrak seseorang saat ini.

'semoga bukan ka Veero..' ucap ku dalam hati'

"Ana?" apa? dia mengenali ku? siapa dia? Butuh waktu yang lama bagi ku untuk mengenali dirinya dari suaranya. Dia, seseorang yang akhir-akhir ini sangat jarang bahkan tidak pernah ku temui, tidak pernah lagi aku ajak dirinya berbicara, dan... tidak pernah lagi ku tatap wajah tampannya. Damar, yap ini Damar.

Aku menengadah kan kepala ku, untuk melihatnya. Tampan, sangat tampan. Tapi, dirinyaa begitu terlihat kurus. aku menatap dalam matanya, ada sorot kerinduan yang terpancar dari sorot matanya. Dia merindukan ku? TIdak mungkin, sudah ada Jenny yang selalu akan menemaninya kemana pun.

"Ana, lo kenapa, na?" ucapnya, dia terlihat begitu khawatir saat ini, aku hanya terdiam. Hanya itu yang mampu aku lakukan saat ini.

"siapa yang bikin lo begini? bilang sama gue, na"

"Ana?"

'bugh'

aku menabrakan tubuh ku ke tubuh Damar, aku memeluknya. Sungguh saat ini aku sangat butuh sandaran..


-flashback off-

Aku tersadar, aku melamun tadi, aku mencoba mengingat menagapa suasana disini sangat ramai, tetapi aku tidak bisa mengingat kenapa.

"Ana?" Ucap Kak Vero menghampiri ku.

"udah bangun, gimana? udah enakan belum?" tanya Kak Vero, aku hanya mengangguk lemah, kepala ku masih sakit akibat Jenny menjambak ku dengan biadab tadi.

Aku mencoba bersandar pada kepala ranjang, di bantu oleh Ka Vero.

"ka Vero tinggal dulu ya, mau cari makan buat kalian.." ucapnya.

"Ana, gue sama Devan kebawah dulu ya, ada film keren, kemarin kita belum sempet nonton dibioskop" ucap Calis.

"Ana, gue sama Aldo mau keluar sebentar cari cemilan ya.." ucap Naomi, sambil menggandeng tangan Aldo.

"kenapa? lo mau keluar juga?" ucap ku, menatap Damar yang mulutnya sudah terbuka setengah, ntah dia mau berbicara apa.

"emm? engga kok, gue ga mau keluar. Mau disini aja." ucapnya tersenyum kepada ku. Aku sangat merindukan senyuman manisnya, Ya Tuhan...




-BERSAMBUNG-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar