Jumat, 19 Desember 2014

I JUST NEED HAPPINESS AND I JUST NEED LOVE

Pagi pagi buta gini gue udah post something.
Gue baru pertama kali nulis tulisan macam ini ke blog gue.
Cerita pribadi. Tapi cukup sakit menyimpannya sendiri.
Gue gatau gue harus ngawalin cerita gue dimana. Karena. Cukup rumit:')

Jakarta, 21Desember 2001 - Jakarta, 21 Desember 2014

Pas itu gue tau mama gue lagi jerit jerit kesakitan, berjuang hidup dan mati hanya demi melahirkan ku didunia.

Aku telah lahir didunia karenanya.

12 tahun aku di besarkan
12 tahun aku di ajarkan sesuatu yang berati
12 tahun...

Tapi.

Semua berubah.
Semua ga kaya dulu lagi.
3 tahun belakangan ini, aku sering mengira bahwa aku anak 'broken home', mama sama ayah jadi sering berantem.
Kadang capek.
Kadang bosen.
Kadang ada niatan buat gue bunuh diri.
Mungkin lo ngira gue itu gila, pyschopat, stress, atau semacem itu.
Kalo boleh jujur.

JUJUR.

Gue capek hidup yang terus terusan begini.
Nunjukin bahwa diri gue itu 'baik baik aja' padahal lagi 'ga baik baik aja'.

Kadang suka mikir.
"Kapan hidup gue sebahagia mereka?"
"Kapan gue bisa ngeliat keluarga gue pelukan?"
Kapan?kapan? Dan kapan?

Banyak yang bilang hidup gue enak, apa apa serba dibolehin.
"Yas, enak banget sih jadi lo. Apa apa dibolehin"
"Yas lo mah enak apa apa dibolehin lah gue enggak"
"Enak yas jadi lo. Ga pernah susah"

Not nice.

Kadang gue juga suka mikir;
"Iya ya, enak hidup jadi gue. Apa apa selalu dibolehin. Ga kaya mereka yang harus nyisain uang jajan mereka buat tabungan mereka, buat keperluan mereka. Mereka mau minta sama orangtua mereka pun ga enak."
Bukan bermaksud menyombongkan diri, tapi emang fakta.

WRONG. IT'S WRONG.

Kalo hidup gue enak, gue gabakalan mungkin nangis nangisan gini.
Bilang kalo gue anak Broken Home.

JUJUR YA.

Kalo gue disuruh milih, gue pasti bakalan milih kehidupan mereka. Iya.

KENAPA?

Karena mereka masih kecil, udah diajarkan buat nabung. Apa apa pakai duit nya sendiri. TIDAK seperti aku.
Aku kadang juga suka kasihan sama mereka.
Kadang aku suka kalap dengan ego ku sendiri. Kenapa? Contoh;

Aku mengajaknya kedufan, padahal mereka ga ada duit, mau minta pun ga enak sama ortu mereka.
Aku mengajaknya nonton, dengan alasan yang sama. Tak ada duit.

Bahkan mereka selalu bilang aku 'orang kaya'. Tidak, aku tidak kaya. Aku tidak terlahir dari keluarga 'konglomerat', aku hanya lahir dikeluarga yang cukup sederhana, hanya saja memang pekerjaan mama ku yang besar dan juga tunjangan tunjangannya.

Kalo boleh JUJUR mah, gue pengen punya sahabat yang 'BENER BENER' sahabat.
Gue butuh tempat curhat, rasanya semua emosi yang tersimpan didalam dada gye udah menggebu gebu.
Gue pengen kesuatu lapangan atau tenpat luas yang kosong, biar gue bisa TERIAK semua uneg uneg gue, jujur gue udah cape sama semua ini. Mau bunuh diri tapi masih banyak dosa.

Sampai kapan aku akan merasakan hal seperti ini terus?
Aku benar benar sangat butuh seseorang yang bisa menjaga semua privacy ku. Tidak menyebarkannya.

Ya Allah, cabut nyawa ku kapan pun. Aku rela, aku ikhlas, asalkan mereka orang yang aku sayangi BAHAGIA.

Satu pinta ku:
Jaga mereka semua, kalau nanti aku benar benar kau panggil, aku ingin meninggal dengan cara khusnul khatimah.

Aku sayang kalian, sampai kapan pun.
Bila
Vivi
Mama
Ayah

Love♥
Laras

Selasa, 16 Desember 2014

A bestfriend story

Ditengah tengah kebosanan gue disekolah, karena masih ngadain acara Classmeet, gldan kebetulan gue paling gasuka ikut bertanding diacara classmeet jadi gada kerjaan selain main hp, galau, baca wattpad, selfie. Gue memutuskan buat ngeshare cerita freak ini-,- bahkan temen gue ada yang bilang gue lagi nonton bo**p. Dasar.


-Deandra Kireina-


Bel istirahat berbunyi, aku keluar kelas bersama Calis, tetapi tidak dengan Naomi. Kita sekelas, hanya saja Naomi sudah ilang sejak 2jam mata pelajaran terakhir, sudah biasa.

Istirahat kali ini Calis tidak bisa ikut, karena ia ingin berduaan dengan Devan ditamn sekolah, Naomi entah kemana, dan ka Vero? Yah, dia sedang ada rapat OSIS, dan aku tau pasti ia akan telat menemuiku dikantin. Dengan berat hati aku melangkahkan kaki ku menuju kantin, sendirian, sial!

Aku sudah memesan roti isi, dan es jeruk. Hanya sendirian disini, biasanya selalu ramai meja kantin yang aku duduki saat ini.

Bosen

Bete

Freak

Hening

Gajelas

Butuh temen

"Emm, misi. Boleh gabung nggak? Mejanya udah penuh semua soalnya, tinggal disini doang yang kosong" ucap seseorang. Aku mengenalnya! Damar! Ya, ini Damar!!

"Iya, boleh. Silahkan." Ucapku, menatap Damar yang tersenyum kepada ku, ya tuhan!! Melihat senyumnya membuat kupu kupu dalam hati ku berterbangan.

Tapi, tidak salah kan aku memperbolehkan Damar duduk disini? Lagipula disaat saati istirahat seperti ini meja dan suasana kantin sangat penuh, jadi ya tidak masalah lah, ya.

Hening

Gadgetan

Salting

Melting

Blushing

Freak

"Umm, Deandra, ehh Kireina...ehh" ucap Damar seperti salah tingkah-,-

"Panggil gue Ana aja" ucap ku, menaruh ponselku diatas meja, dan...sekilas menatap mata hazel milik Damar.

"Ohehe, iya iya..." ucap Damar menganguk, tersenyum. Ya tuhan!! Senyumnya mematikan semua saraf motorik yang aku punya!!


---percepat---


-Deandra Kireina-

Tak terasa, aku mengenalnya sudah tiga bulan lebih, dan sekarang Damar sudah akrab denganku, bahkan sebagian dari beberapa teman ku mengira bahwa aku sudah menjalin hubungan dengannya.

Hari demi hari aku lewati bersamanya, rasa nyaman sudah mulai muncul, aku selalu dibuat terbang olehnya, bagaikan ratu kupu-kupu. Namun, ada sesuatu yang mengganjal perasaan ku saat ini, selalu merasa deg degan saat bersamanya, apa aku menyukai Damar? Tidak tidak, tidak mungkin.


-Damar Athalahasya-

Ana. Cewe yang udah dua kali ketemu gue karena keteledoran gue. Menurut gue, Ana itu anaknya lucu, imut, gemesin, apalagi pipinya, bawaannya pengen nyubitin mulu, dia suka marah kalo gue bilang dia pendek, emang nyatanya dia pendek, walaupun diantara Naomi dan Calis dia yang rada tinggi.-.

Ada yang ga biasa pas gue kenal --re:pertama kali kenal--  Ana, gue nyaman deket sama dia, happy terus. Dan gue, ngerasa kalo gue...... suka sama Ana. Nggak, gue tau ini gamungkin. Gue sama Ana cuma temen, oke temen. Galebih.


-Author-


Ana, Naomi, dan Calis sedang nongkrong disalah satu kedai kopi yang cukup ramai pada saat jam 12an, karena sebagian orang yabg datang kesini orang berbisnis untuk sekedar merefresh otak mereka, atau sedang janji dengan clien mereka

"Mi, Cal. Salah ga sih gue suka sama temen gue sendiri?" Ucap Ana, sambil memasukan sesuap cake red velvet kedalam mulutnya.

"Kenapa emang? Atau jangan jangan..."

"Enggak, enggak bukan gituu. Bukan berarti gue suka sama lo berdua, cuma kayanya gue.."

"Lo suka kan sama Damar, na?"ucap Naomi, dan sunggu itu mampu membuat Ana terkejut. Tetapi benar apa yang diucapkan Naomi, Ana menyukai Damar.

"Jujur sama kita, na. Biar kita juga tau, kali aja bisa bantu." Ucap Calis, menyeruput swamp monster miliknya.

Ana hanya menggelengkan kepalanya, kini ia menunduk. Tak tahu akan perasaannya saat ini keoada Damar.

"Na, kita sahabatan udah lama. Gue tau sifat lo kaya gimana,na. Udah jujur aja sama kita. Lo suka kan sama Damar?" Ucao Naomi, Ana belum berani menatap kedua sahabatnya kini.

"Gue gatau" ucap Ana masih dengan posisinya yang sama. Menunduk sambil melilitkan bajunya.

"Gue tau. Lo ga ysah nutupin semua ini lagi, na. Oke, gue tau karena gue juga pernah ngerasain hal yang sama, kaya lo." Ucap Calis mulai menyentuh bahu Ana.

"Gue pernah ngerasain friendzone kaya lo juga, bahkan lebih lama. 1 tahun bukan waktu yang sebentar kan? Sedangkan lo? Baru 3bulan, dan gue rasa Dama juga ada perasaan yang sama kaya lo. Believe me." Lanjut Calis, Ana mulai berani mengangkat kepalanya. Menatap kedua sahabatnya kini.

"Gue ga yakin kalo Damar punya perasaan yang sama" ucap Ana dengan ekspresi datar.


---


-Naomi Putridelia-


Akhir akhir ini gue liat Ana berubah, dia uda jarang bareng bareng sama Damar, gue gatau dia kenapa. Mungkin dia coba buat ngehindar dari Damar, tapi disisi lain Ana juga pasti ga bakalan bisa.

"Ka Vero"

"Hm?" Jawab ka Vero dengan alis bertaut, sekarang jam istirahat, Ana sedang izin ketoilet. Mungkin kesempatan ini akan aku gunakan untuk membicarakan tingkah aneh Ana.

"Ana ga pernah curhat sama ka Vero?" Tanya gue

"Enggak. Gue gatau kenapa akhir akhir ini kayanya dia sering banget nunjukin sesuatu yang fake. Example fake smile, dia pura pura senyum, dia pura pura fine padahal gue tau sebelumnya dia lagi nangis, dan gue gasengaja nguping, kalo dia nyebut nyebut nama...Damar" ucap Ka Vero merendah pada bagian akhir ucapannya.

Benar dugaan gue. Ana sering menangisi Damar dirumah, menunjukan fake smilenya kepada kita semua padahal didalamnya dia lagi rapuh.

Mencoba tersenyum saat terluka.

Miris.


BERSAMSUNG;P


Minggu, 14 Desember 2014

A Bestfriend Story

-Deandra Kireina-

"Ka Vero, ngapain siih bilang bilang ke Bunda? Lagian kan aku ga suka ka sama Damar"Ucap ku, sambil memainkan ponsel ku.

"Bilang apa sih?" Ucap Ka Vero yang pura pura tidak tahu. Astaga!! Aku lupa!! Barusan aku menyebut nama Damar didepan ka Vero. Bodoh!

"Cieee, jadi kamu udah tau namanya?" Ucap Ka Vero meledekku, benar saja. Aku sudah menebak, pasti Ka Vero akan meledek ku.


Aku dan Ka Vero sudah sampai disekolah, tidak tidak, Ka Vero sudah jalan duluan dan aku masig di belakangnya. Langkah ku terlalu pendek sepertinya apabila berjalan berdampingan dengan Ka Vero.


Bugh


Aku berharap ini bukan bola basket lagi. Ya, bukan. Melainkan seorang laki laki yang sedang membawa buku buku tebal terjatuh tertabrak diriku, sial.


"Eheh, aduuh.. maaf ga sengaja" ucap ku merapihkan beberapa buku yang terjatuh dan juga beberapa kertas yang keluar dari dalam buku tersebut.


"Iya, gapapa. Gue juga jalannya bengong ga hati hati, maaf ya. Ada yang sakit ga?" Ucapnya mulai menatap ku.


"Ehh lo, ketemu lagi" ucap ku, basa basi dikit lahh.


"Eh. Eh iyaa, hehe sorry ya dari kemaren gue ga hati hati." Ucap lelaki itu yang aku ketahui bernama Damar.

"Iya gapapa kok" ucap ku, melontarkan seutas senyuman manis.

Freak.

Hening.

Salting.

Spechless.

"Kenalin, nama gue Damar Athalahasya, panggil gue Damar boleh, atau sesuka hati lo aja. Tapi jangan panggil gue say aja.." ucap Damar dengan PD nya, aku hanya terkekeh kecil dan membalas uluran tangan Damar yang berada didepan ku.

"Deandra Kireina Pattiraga" ucap ku.

"Ehh kesebut deh nama marganya.."ucap ku terkekeh sendiri, namun dibalas senyuman oleh Damar.

"Haha gapapa kali. Oh ya lo kelas berapa?" Tanya Damar, dan kami sudah mulai melangkahkan kaki kami menelusuri koridor sekolah.

"IPA 11-D, kalo lo sendiri?" Ucap ku menoleh sedikit kearahnya--Damar--

"Gue IPS 11-D juga" ucap Damar, terkekeh kecil.

"Haha, kok bisa sama ya?"

"Jodoh kali tuh..." ucap seseorang dari arah belakang kami, aku mengenal suaranya. Yap, itu suara... Naomi!!! Arggh, Naomi. Mengapa kau harus muncul disaat saat seperti ini, sih? Naomi, bukan Naomi namanya kalau tidak asal ceplas ceplos ngomongnya. NAOMI MENGAPA KAU HADIR DISAAT SAAT SEPERTI INI, SIH? Untung kau temanku, Naomi. Coba kalau tidak. Akan ku potong lidahmu, akan aku sobek bibirmu, aku penggal kepala mu, dann akan aku mutilasu tubuhmy menjadi 15 bagian, dan akan ku buang kau di kolam ikan bawal Saung Talaga.

"Gue duluan ya"aku terjaga, ternyata kita sudah sampai di ujung tangga kelas 11, dan kelas kita memang beda satu koridor.

Mengapa rasannya begitu cepat saat bersamanya? Padahal kan aku ingin berlama laa dengan-nya.

-Naomi Putridelia-

Saat aku melangkahkan kaki ku dikoridor sekolah, aku menemukan pemandangan yang tidak enak, eh bukan gitu, eh atau apalag itu. Aku melihat Ana dari jauh sedang merapihkan buku buku dan kertas yang berserakan dilantai, bersama... damar. Ya aku kenal dia, Ana sudah menceritakannya kemarin. Aku mempercepat langkah ku, mengikuti mereka dari belakang dengan langkah hati hati, dan aku memutuskan untuk mngeluarkan suara ku. Walau aku tau aku akan jadi pengganggu.



BERSAMBUNG AJA DEH


Sabtu, 13 Desember 2014

A Bestfriend Story

"Ehemm.. makanya jangan bengong, kesambet bola kan akhirnya, untung bola bukan setan" ucap Ka Vero yang sudah jauh beberapa langkah dari tempat ku kini berada.

"Ma-maaf ya ka cewenya ga sengaja kena bola tadi" ucap lelaki yang berada disamping ku. Apa dia bilang? Cewe? Gue cewenya ka Vero? Ingin sekali rasanya aku menjedotkan kepalanya ke tembok.

"Ohehee, sorry dia bukan cewe gue, dia addk gue. Iya iya gapapa lain kali hati-hati" ucap ka Vero menyunggingkan sebuah senyuman manis.

"Damar, woiii maar, damaaarrr, amaaarr cepetaaan coooy" teriak beberapa temannya yang berada dilapangan menunggu bolanya. Apa tadi aku ga salah denger? Namanya Damar? Ya ampun ganteng sekali dia.

---

-Author-

Bel pulang sekolah sudah berbunyi sedari 20 menit yang lalu, namun Ana, Naomi, Calis, Ka Vero, dan Devan masih berada diarea sekolah di cafetaria.

"Coy, main yuk" ucap Calis sambil sesekali menyeruput es jeruknya.

"Kemana? Gue mau capoera, Lis" ucap Naomi,

"Jam berapa emang? Bayarin gue yaaa" ucap Ana memasang puppy eyes nya.

"Ahh lo, duit lo berjibun di atm. Masih aja minta bayarinn" ucap Calis, Devan hanya tertawa kecil mendengar ucapan Calis

---

-Damar Athalahasya-

"Marr, lo lama banget tadi ngambil bolanga tadi"Daniel berucap seperti itu kepada ku, aku hanya terkekeh kecil.

"Suk dia sama adeknya ka Ver, si Ana tuh, niel.." Farid main asal cerocos sajaa.-. Apa dia bilang? Adiknya ka Vero? Namanya Ana? Apa aku ga salah dengar? Entahlah.

"Diem aja lo, mar. Suka lo sama Ana?" Ucap Farid kepada ku.

"Tadi lo bilang nama adenya Ka Vero namanya siapa, rid?" Ucap ku, Farid dan Daniel menatapku dengan tatapan yang....errrr seperti pembunuh.
Ka Andreas Vernando Pittaraga, atau Ka Vero nama kecilnya. Siapa sih yang tak kenal dengan Ka Vero? Ketua osis disekolahku yang sangat tenar, bukan hanya sebagai ketua osis saja, tetapi dia juga menjabat sebagai ketua tim basket. Mungkin hampir 99,9% kaum wanita yang sekolah disini akan terperangah melihat senyumnya yang menawan. Ehh gue ngomong gini gue ga homo yeh..

Tuk

"Aduuuh, eh lo gila sakit gila, rid" ucapku meringis memegangi kening ku yang berdenyut akibat Farid memukul keningku menggunakan sumpit.

"Lagian lo, bengong mulu. Kenapa sih? Masih bingung yeh siapa nama ade nya ka Vero?" Ucap Daniel menunjukan wajahnya yang seperti sedang menahn ketawa.

"Enggaklah, ihh ya kali..." ucap ku, mengalihkan pandangan ku ketempat yang lebih..mengasikan.

Aku menemukan pemandangan yang sangat mengasikan, adem rasanya melihat pemandangan yang satu ini. Aku menemukannya, Ka Vero, dan Ka Devan serta tiga orang perempuan salah satunya...Ana. Aku tersenyum sendiri melihat keadaan Ana yang hanya beda beberapa meja dari mejaku. Farid dan Daniel melihat kearah tatapan ku, dan...1...2...3...

"Uhuk..uhuk..uhuk, rid bagi minum dong.. gue keselek sendal bang udin.. uhukk uhukk" dan, benar saja apa aku bilang, Daniel dan Farid pasti akan mengerjaiku, sial.

"Ini nih, niel. Minum cepetan gue takut lo mati!!" Ucap Farid dengan suara lantang, memalukan. Aku yakin, pasti ada seseorang yang memperhatikan meja kami, aku sedikit menengok, dan benar saja disebrang sana Ka Vero, Ka Devan dan tiga orang perempuan melihat kearah meja kamu dengan tatapan tanda tanya, aku hanya memberi kode sebuah senyuman dan kedua tangan yang ku jadikan satu serta menenunduk🙏🙏 seperti sebuah kode meminta maaf. Pantas saja mereka mengalihkan pandangan kekami suasana cafetaria ini sangat sepi hanya kita ber 8 saja yang menempati cafetaria ini.

-Deandra Kireina-

Apa aku tidak salah lihat tadi? Aku melihay seseorang yang tadi pagi tak sengaja melemparkan bola basket ke kepala ku. Damar. Yapp!! Kini aku mengetahui namanya, nama depan doang si. Ya setidaknya aku tahu namanya.

"Na, ki, rei, ana, kireina.. ya ampun.. DEANDRA KIREINA PATTIRAGA!!" ucap ka Vero memanggil ku. Aku kaget, sangat kaget. Sialan sekali kaka ku ini.

"Apan sih ka? Gausah ngagetin kali.." ucap ku sambil meraih ponselku yang tergeletak diatas meja dan selanjutnya berdiri.

"Ayo pulang, lo mau nginep disini, na?" Ucap Naomi memasang wajah ganasnya, aku takut melihatnya.

"Lagian gabilang daritadi kalo mau pulang.." ucap ku agak' sedikit kesal.

"Gabilang gimana, kita dari tadi udah manggil-manggil lo, tapi lo aja budek, malah bengong disitu" ucap Calis, memainkan ujung rambutnya.

"Ahhelah, tau deh." Ucap ku sangat' kesal, dan menghentakan kaki ku kelantai dengan keras dan jalan mendahului mereka menuju mobil ku, ralat mobil ka Vero.

---

-Author-

Mentari pagi telah membangun kan seorang gadis berparas cantik ini. Ia sedang membenahi dirinya didepan sebuah cermin yang tingginya setara dengan tubuhnya.

"Pagiii..." ucapnya, menyapa Bunda, dan Ka Vero yang sudah memulai sarapan.

Hening.

"Bun, Bunda tau ga? Ana lagi suka sama orang tau.." ucap Ka Vero membuyarkan keheningan.

"Ohhya? Bagus dong suka sama orang, masa iya suka sama binatang sih, Ver. Kamu mah kalo ngomong yang bener aja kali" ucap Bunda

"Iya maksudku juga begitu,bun."
"Orangnya cakep sih bun, putih, tinggi, cakep dehh.. tapi sayang matanya sipit, sampe sampe kemaren ngelempar bola basket ke Ana." Lanjut Ka Vero, aku hanya menunduk, menyembunyikan semburat merah yang pasti sedang berada dipipi ku.

"Ngelempar bola basket?" Tanya Bunda dengan tatapan penuh selidik.

"Iyaa, bun-----

"Ka Vero ayo berangkat udah siang ini telat kita bisa bisa..." ucap Ana sambil menarik lengan Ka Vero.


BERSAMBUNG DULU YEAAA

A bestfriend story

-Deandra Kireina-

Mentari pagi mengusik tidur lelap ku, aku mendengar suara derap langkah kaki seseorang  yaap!! Biar ku tebak pasti itu  Bunda yang datang untuk membangunkan ku.

"Ana, bangun sayang. Udah pagi, nanti kamu telat lohh." Ucap Bunda yang sedang membuka gordyn kamar ku. Aku merenggangkan otot otot ku yang kaku.
"Mmm, iya bun.." ucap ku, aku membangun kan tubuh ku lalu duduk dipinggiran tempat tidur untuk mengumpulkan semua tenaga dan nyawa ku yang mungkin belum sepenuhnya terkumpul.

Lima belas menit kemudian aku telah selesai membenahi diriku, dan sudah berpakaian lengkap seragam sekolah.

"Pagu bun, pagi ka Vero.." ucapku,  pasti kalian bertanya - tanya kemana Ayah ku, Ayah ku sedang bertugas ke luar negeri mengurusi bisnisnya disana, ya aku bisa dibilang sangat berkecukupan, tetapi aku bukan tipikal orang yang sering menghambur-hamburkan uang untuk berbelanja seperti kebanyakan orang orang kaya yang lainnya.

"Cepetan abisin makanannya, abis itu berangkat takut telat" ucap Bunda.

"Iya bund, ana bewangkat.duwu@*#*¥%*¥-#-#8;" ucap ku karena mulutku penuh dengan roti.

"Pergi dulu, bun." Ucap Ka Vero.

Ka Vero dan aku berjalan berdampingan menusuri koridor sekolah.

"Ana!!" Teriak seseorang dari arah belakang, yaapp itu adalah Callista Arthamevia atau Calis salah satu sahabat Ana dari dirinya SD hingga sekarang SMA.

"Eh Calis, tumben udah dateng. Biasanya si Naomi duluan yang dateng, pasti ada apa apa nih kaka tau. Belum ngerjain PR kan kamu?" ucap Ka Vero.

"Heheh, iya kak belum ngerjain PR aku mau liat ke Ana, karena aku tau Ana pasti udahan. Iya kan, na?" Ucap Calis cengengesan tidak jelas.

"Apaan, gue aja belum ngerjain. Malah gue mau nyontek ke Naomi, dia jago Math nya, lah gue Biologi doang pahamnya." Ucap Ana.

"Yah elo----" belum sempat Calis menyelesaikan kalimatnya tiba tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang, sehingga membuat dirinya kaget.

"Ehh, Devan ihh bikin gue kaget aja lo." Ucap Calis memukul sedikit lengan Devan namun Devan hanya tertawa.

"Yaelah, masih pagi cooy udah pacaran aja.." ucap Ka Vero dengan nada kesal, namun hanya bercanda.

"Haha, cemburu ye lo? Makanya buru tembak, kasian dia lo gantung mulu dikasih harapan yang ga pasti" ucap Devan. Ya mereka memang kakak kelas kami namun kami sudah menganggapnya sebagai kakak kami, mau pun sebaliknya.

Aku --Ana-- memiliki dua orang sahabat yang sangat aku sayangi. Naomi Putridelia Wilianatama, dia gadis yang mempunya nama yang begitu cantik pasti kalian juga mengira bahwa Naomi ini adalah gadis yang modis, minimalis dan sebagainya. Tapi tebakan kalian salah, Naomui si pemilik nama yang cantik ini sama sekali tidak memiliki kepribadian yang sangat sangat menunjukan bahwa dirinya perempuan, ia memilimi postur tubuh yang tinggo dan juga ideal bagi kaum wanita, namun ia sangat berkepribadian seperti layaknya seorang lelaki, rambut cepak, memakai motor gede, dan apapun itu yang menjurus kearah laki laki. Tetapi dia aering memotivasi kami ketika kami sedang galau anak abg labil. Tapi dia tidak lesbi ya, dia masih normal dan setau ku sekarang dia sedang memiliki gebetan, adik kelas kami.
Sahabat ku kedua, Callista Arthamevia Winatama, aku mengenalnya dari aku SD, hingga sekarang kita kelas 2SMA dan sialnya selalu sekelas, bayangkan saja, aku sudah 11tahun bersama Calis, namun tak ada rasa bosan diantara kita. Lain halnya dengan Naomi, Callista atau Calis memiliki kepribadian yang sangat mewanitakan ah apalag entah itu namanya. Ia selalu berpakaian modis layaknya seorang model, ahh ya aku lupa dia memang model sejak balita.-. Sehingga wajar saja dia selalu memperhatikan perawatan, Calis menjalin hubungan dengan Devan sejak kelas 9 diSMP, saat itu Ka Devan sedang dalam acara ProomNight kelulusannya dan siapa sangka ternyata ka Devan menyatakan cintanya pada Calis pada malam itu, perfect.

'Bugh'

Aku tersadar dari lamunan ku, ternyata seseorang dari lapangan basket tak sengaja melemparkan bolanya tepat dikepalaku, sasaran.

"Upss, so-sorry gue ga sengaja" ucap seseorang yang ku yakini tak sengaja melempar bolanya tepat ke kepala ku.

"Aww, i-iya gapapa kok" ucap ku sambil meringis memegangi kepala ku yang terasa berdenyut.

"Ehemm.. makanya jangan bengong, kesambet bola kan akhirnya, untung bola bukan setan" ucap Ka Vero yang sudah jauh beberapa langkah dari tempat ku kini berada.

"Ma-maaf ya ka cewenya ga sengaja kena bola tadi" ucap lelaki yang berada disamping ku. Apa dia bilang? Cewe? Gue cewenya ka Vero? Ingin sekali rasanya aku menjedotkan kepalanya ke tembok.

"Ohehee, sorry dia bukan cewe gue, dia addk gue. Iya iya gapapa lain kali hati-hati" ucap ka Vero menyunggingkan sebuah senyuman manis.

"Damar, woiii maar, damaaarrr, amaaarr cepetaaan coooy" teriak beberapa temannya yang berada dilapangan menunggu bolanya. Apa tadi aku ga salah denger? Namanya Damar? Ya ampun ga teng sekali dia.


BERSAMBUNG