~JUST IN TIME~
Author : DEASYANA PUTRISYA LARASATI
NO COPAS!!
SORRY TYPO AND GAJE..
---
Semilir angin bertabrakan menyentuh kulit tiap insan yang bertelang dada pada malam ini, bulan memancarkan cahaya redupnya dengan taburan beberapa bintang disampingnya, yang ikut menemaninya pada malam yang dingin karena habis terguyur hujan seharian. Seorang gadis berperawakan tinggi, putih sedang duduk dibalkon kamarnya bersama laki-laki berbehel, entah sedang membicarakan apa hanya mereka yang tahu..
"hmm..(namakamu), udah dong jangan nangis kaya gini, gue janji deh bakalan temenin lo terus, lagian kan gue udah pernah bilang sama lo, jangan mau deket-deket sama Aldy, jadi ginikan akhrnya" ucap pria berbehel itu pada (namakamu) sahabat kecilnya
"lagian gue kan gatau baal, kalo jadi kaya gini.. hkss" ucap (namakamu) di sela tangisnya
'CLEK'
pintu kamar (namakamu) terbuka, terlihat pria berponi lempar memakai kacamata memasuki kamar (namakamu), yang tidak bukan adalah Aldy dan itu sontak membuat mereka berdua menoleh
"mau ngapain lo kesini? hah? belum puas lo udah nyakitin dia?" ucap pria berbehel itu mencegah Aldy untuk mendekati (namakamu)
"Iqbaal, (namakamu), kalian berdua salah paham, gue sama Tasya ga ada hubungan apa-apa, dan soal tadi.. nghhh.. soal.." ucap Aldy dengan kalimat yang menggantung
"soal lo nampar (namakamu), itu beneran kan? bukan salah tampar kan?" balas pria berbehel yang diketahu bernama Iqbaal itu, Aldy menunduk mendengar ucapan Iqbaal. Menampar? ya Aldy menampar (namakamu) tadi siang saat berada di taman belakang sekolah
"tadi..egg..tadi itu gue ga.."
'PLAK'
satu tamparan mendarat mulus dipipi Aldy.
"pergi dari sini, jangan pernah kenal gue, jangan anggap kita pernah kenal, jangan anggap kita pernah PACARAN!! PERGI!! GA USAH MUNCUL DI KEHIDUPAN GUE!!" Aldy yang mendengar ancaman yang keluar dari mulut (namakamu) hanya dapat menunduk, punggungnya menurun seperti tidak ada yang menopangnya
'sialan lo sya!!'
---
sang surya sudah menapkaan dirinya tanpa malu-malu, cuaca cerah tanpa adanya awan hitam yang menutupi sang surya, tanpa ada rintikan yang membasahi bumi pagi ini..
"banguunnn..." teriak seseorang dari balik pintu kamar, suara yang sangat familiar ditelinga (namakamu)
"sshhh.. berisik, kebiasaan" desisnya
'CLEK'
Iqbaal memasuki kamar (namakamu)
"wesss.. tumben udah raph, biasanya masih molor" ledek Iqbaal, dengan senyuman manisnya
"huhhh, gue tabok lo" ucap (namakamu) memoleskan sedikit lipgloss pada bibir nya
"hmm.. berangkat yukk"
---
Iqbaal dan (namakamu) sudah sampai di pekarangan sekolah, dengan senyuman manisnya (namakamu) mengawali paginya.
"(namakamuuuu)....." teriak seorang perempuan berambut panjang agak curly, berwarnaagak-agak pirang, Iqbaal dan (namakamu) menoleh, perlahan senyuman (namakamu) mengembang melihat yang memanggilnya adalah sahabat kedua terbaiknya setelah Iqbaal
"ke kelas yuk.. lima menit lagi masuk" ujar Steffi, mendapat anggukan dari kedua sahabatnya yang lain..
---
bell istirahat sudah berdentang sebanyak tiga kali, pertanda kegiatan belajar mengajar harus terjeda selama 30 menit..
"ga istirahat?" tanya Steffi melirik kearah (namakamu), (namakamu) menggeleng dan tersenyum
"ga.. ga ada acara ga istirahat, lo harus ikut gue MAKAN, lo belum makan (namakamu..)" ucap Iqbaal menarik lengan (namakamu), (namakamu) hanya bisa pasrah mendapat paksaan dari Iqbaal, baginya Iqbaal lah orang yang sangat memperhatikannya karena kedua orang tuanya sibuk mengurusi bisnisnya diluar negeri
---
mereka bertiga sudah sampai di kantin, suasana kantin yang sangat penuh, sesak, dan sempit mengharuskan Iqbaal, Steffi, dan (namakamu) mendapat tempat duduk paling pojok.
"gue yang pesenin ya. (namakamu), lo harus makan ga boleh cuma ngemil aja nanti sakit loh"
Iqbaal sudah kembali membawa nampan berisi tiga piring nasi, dan tiga ice lemon tea.
"gimana kondisi ka Nasya, sama bang Julian? masih belum sadar juga?" ucap Steffi menatap (namakamu), (namakamu) menggeleng
"belum Steff, luka nya cukup parah gue sih berharap mereka akan sadar secepat mungkin, karenaa.. karena cuma mereka yang gue punya, orangtua gue terlalu sibuk sama urusan bisnisnya, sampai-sampai mereka lupa sama anaknya disini" balas (namakamu) menunduk, mengaduk-aduk makanan yang ia miliki.
Nasya dan Julian, adalah kakak kandung (namakamu), dua hari yang lalu mereka masuk rumah sakit dan tidak sadarkan diri akibat benturan keras yang menimpa keduanya, Kak Nasya dan Bang Julian, adalah kakak yang sangat baik. mereka ada di saat (namakamu) butuh, kapan pun itu.
---
bell pulang sudah berbunyi lima menit yang lalu, Steffi, Iqbaal, dan (namakamu) masih sibuk menulis catatan yang berada di papan tulis
"huhh... selesaai" ucap (namakamu) membenahi beberapa alat tulis miliknya
"gue juga udah selesai, kita jodoh" ucap Iqbaal mencubit pipi tembem (namakamu)
---
Iqbaal dan (namakamu) sudah sampai di parkiran rumah sakit, untuk menengoki kak Nasya, dan bang Julian.
"asalamualaikum.." ucap Iqbaal dan (namakamu) secara berbarengan
"waalaikumsalam" balas seseorang di dalamnya
"haa? kak Nasyaaa, bang Juliannn..." ucap (namakamu) kaget melihat kedua kakaknya sudah tersadar.
"kakak udah sadar? kapan sadarnya?" tanya (namakamu) duduk bersebelahan dengan kedua kakaknya, berhubung kamar ini VIP, jam untuk berkunjungnya bebas.
"emm. Iqbaal, gimana (namakamu) semenjak ga ada kita berdua di rumah, dia malas makan nggak?" tanya Julian kepada Iqbaal
"syukurnya enggak kok kak, cuma tadi pas istirahat dia ga mau ke kantin, tapi udah Iqbaal paksa akhirnya dia mau juga" balas Iqbaal dengan senyuman manisnya
"ahahahha.. syukur deh, makasih ya Iqbaal, kamu baik banget" ucap Nasya dengan senyuman khasnya
"kak, tau nggak? selama dirumah nggak ada kakak, Iqbaal tuh baaaweell banget.. masa aku lagi siap-siap sama dia di teriakin biar cepet-cepet" ucap (namakamu) mengerucutkan bibirnya.
"hahhhaha.. gapapa biar kamu ga lelet, kamu kan lelet banget sampai-sampai kalau mau berangkat sama kak Nasya, kak Julian telat mulu" jawab Nasya mengusap puncak kepala (namakamu), Nasya, dan Julian memang satu sekolah.
---
Nasya, dan Julian sudah di perbolehkan pulang oleh dokter, kini (namakamu) sudah tidak sendirian di rumah.
"yeeaayy, akhirnya (namakamu) udah nggak sendirian lagi di rumah" ucap (namakamu) girang.
"seneng amat lu dek" ledek Julian mengusap muka (namakamu) dengan telapat tangannya, (namakamu) nyengir memamerkan jajaran gigi putihnya yang nyaris sempurna.
---
malam harinya, (namakamu) duduk dibalkon kamarnya di temanin oleh, secangkir coklat panas, ponselnya, dan buku dairynya.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
DEAR DAIRY
TUHAN..
TUHAN, TERIMAKASIH SUDAH MENGEMBALIKAN KEDUA KAKAK KESAYANGAN KU KEMBALI KEPADA KU. TUHAN, AKU RINDU ORANGTUA KU, TUHAN AKU INGIN KEDUA ORANGTUA KU KEMBALI KESINI, MENEMANI HARI-HARI KU BERSAMA KEDUA ORANGTUA KU, DAN KEDUA KAKAK YANG AKU SAYANGI
~(NAMAKAMU)~
JAKARTA, 21 APRIL 2014
-----------------------------------------------------------------------------------------------
pagi harinya, (namakamu) sedang membenahkan penampilannya di depan cermin.
'CLEK'
Pintu kamar (namakamu) terbuka, Julian memasuki kamar (namakamu)
"ada Iqbaal, dah sana berangkat" (namakamu) hanya mengangguk
---
iqbaal dan (namakamu) sudah sampai di sekolah, Iqbaal memarkirkan motornya sedangkan (namakamu) menunggu di pintu masuk.
"yuk" Iqbaal menggandeng tangan (namakamu).
saat perjalanan menuju kelas
'BRUK..'
tubuh (namakamu) limbun kebelakang, badan nya dingin, nafasnya sedikit. Iqbaal panik, membawanya kerumah sakit menggunakan mobil Steffi, Steffi menghubungi Nasya, dan Julian.
---
IQBAAL POV
Gue sama (namakamu) udah sahabatan dari kecil, tanpa sengaja gue SMP satu sekolah sama dia, bahkan satu kelas. Rasanya tuh kaya ada yang dag..dig..dug.. gitu kalo deket dia, dia itu imut, cantik, dia penyabar, penyayang, dia paling suka tentang sosial, jiwa kesosialannya itu besar banget, kalo di ajak ke panti asuhan dia langsung nyumbangin keperluan yang menurutnya udah ga berguna, gue sayang banget sama dia, tapi gue gatau rasa sayang sahabat atau lebih yang gue rasain sekarang.
(NAMAKAMU) POV
Weh gila, gue sahabatan sama Iqbaal lama juga yaah. hampir.. emmm... hampir empat tahun lah.. ga tau kenapa kalo gue deket Iqbaal tuh.. nyamaaan banget, gue sayang tau sama Iqbaal
---
'CLEK'
pintu dimana (namakamu) di tangani terbuka, seorang wanita berjas putih keluar dari dalam, mencopot masker dan stetoskop nya.
"keluarga (namakamu)"
'saya dok" ucap Julian
"(namakamu) tidak apa-apa, hanya sedikit masuk angin, mungkin dia lagi banyak pikiran, jadi asupan makanan yang masuk kedalam tubuhnya sedikit, membbuat dia lemas" jelas sang dokter, semua bernafas lega setelah mengetahui bahwa (namakamu) hanya masuk angin biasa.
---
"emhh.. (namakamu), guee.."
'CLAK...CLAKK..CLAAAKK..BYURRR'
saat Iqbaal ingin mengucapkan sesuatu, hujan turun dengan deras, itu membuat Iqbaal mengurungkan niatnya
---
hari ini hari minggu, membuat semua orang ingin menghabiskan hari libur ini untuk tidur..
'DRTT..DRRTT..DDDRRTT...'
Ponsel (namakamu) bergetar, pertanda ada telpon masuk
"halo.."
"ahh? apa? ihh gila lo ya, males ah"
"yaudah masuk, gue siap-siap dulu"
"iyaa, bye"
---
(namakamu) menurununi satu persatu anak tangga rumahnya, dengan menggunakan baju hitam bergaris putih lengan panjang, dan celana jeans selutut, mempercantik dirinya hari ini, apa lagi hari ini (namakamu) mengenakan sepatu yang di berikan Iqbaal, pada hari ulangtahunnya
"udah yuk" ajak Iqbaal menarik lengan (namakamu)
"tunggu, gue belum izin"
---
Iqbaal dan (namakamu) sudah sampai disalah satu taman, dengan hamparan luas permadani hijau, dan danau yang berada di tengah-tengah taman, udara yang sejuk.. aghhh sempurna
"ahh, gila, keren banget. sumpah keren bangettt.. aaaaa gue sukaaaa" teriak (namakamu) dan menghadap Iqbaal, tempat ini sangat sepi hanya ada mereka berdua di tempat ini, tanpa ada siapa pun.
"gimana? bagus kan?" tanya Iqbaal, (namakamu) hanya mengangguk, memainkan air danau yang dingin.
"ehhmm..(namakamu)..." (namakamu) menoleh dan menautkan kedua alisnya
"guee..guee.." ucap Iqbaal dengan kalimat menggangtung
"apa?"
"gue suka sama lo.." ucap Iqbaal menunduk, meraih lengan (namakamu)
"lo mau nggak jadi pacar gue? anggap gue lebih dari sahabat?" (namakamu) mengangguk
"gue juga suka sama lo, baal" jawab (namakamu) disertai senyum manisnya, pipinya berubah warna menjadi merah merona.
"jadi?"
"sekarang kita pacarannn" teriak Iqbaal dan (namakamu) berpelukan..
--TAMAT
SAYANGI DIA SELAMA DIA MASIH ADA DI SISI MU, JANGAN SIA-SIA KAN DIA YANG SUDAH MEMENDAM PERASAAN YANG SAMA SEPERTI DIRI MU, KARENA SESUNGGUHNYA DIA LAH YANG AKAN MENJADI YANG ABADI UNTUK MU.
~JUST IN TIME~
Deasyana Putrisya Larasati
@deasyana_pl
Jumat, 21 Februari 2014
Senin, 17 Februari 2014
^PATIENCE^
---PART 9---
AUTHOR: DEASYANA PUTRISYA LARASATY
SORRY GAJE DAN TYPO
INI LAST PART..
NYESEK ENGGAK NYA TERGANTUNG LO-LO-LO PADA YANG BACA:)
AUTHOR: DEASYANA PUTRISYA LARASATY
SORRY GAJE DAN TYPO
INI LAST PART..
NYESEK ENGGAK NYA TERGANTUNG LO-LO-LO PADA YANG BACA:)
----
Pagi
harinya, (namakamu) terbangun dari tidurnya, leboh awal dari yang lain. Entah
mengapa saat ini (namakamu) ingin menulis kan sesuatu dalam buku hariannya
--------------------------------------------------------
Dear dairy..
Tuhan..
Aku tahu tentang
penyakit ku, aku tahu hidup ku tidak akan lama lagi. Setelah aku di diagnosis
mengalami penyakit Kanker, rasanya aku ingin mengakhiri hidupku dengan cepat,
tanpa harus menunggu kanker ku semakin parah. Tuhan, jika nanti, esok, lusa,
atau kapan aku meninggal, aku hanya meminta, bawa pulang mama, papa ku kesini,
agar mereka bisa melihat ku saat terakhir kalinya, agar dapat memeluku terakhir
kalinya, agar dapat mencium ku untuk terakhir kalinya, agar dapat melihat jazad
ku yang sedang tertidur berbalut kain putih, disaat itulah aku merasakan
ketenangan yang abadi, yang tidak pernah
aku rasakan, dan satu lagi, aku hanya ingin membuat mereka semua tersenyum
termasuk teman-teman ku. Iqbaal, aku akan tetap mencintai kamu walau pun aku
sudah tidak berada disisimu lagi, aku ingin kamu memeluk jazad ku untuk yang
terakhir kalinya, mencium jazad ku, tetapi jangan menangisi ku. Aku sayang
kalian.
Love (namakamu)
Jakarta, 24 Maret
2014
-------------------------------------------------------
‘CLEK’
Tepat
disaat (namakamu) menutup buku dairynya Iqbaal masuk kedalam kamar (namakamu)
“udah
bangun” ucap Iqbaal dengan seringaian senyuman manisnya, (namakamu) mengangguk
dan tersenyum
‘aku akan
merindukan senyuman manis mu (namakamu)’
“emm,
udah mandi? Nanti jadi kan jalan-jalan?” ucap (namakamu) menghampiri (namakamu)
“tanya Karel, Aldy, Kiky, kan mereka yang bawa kendaraan jadi ya sebisa mereka.
Tapi sih aku berharap bisa, soalnya aku pengen banget sih jalan-jalan buat yang
terakhir kalinya”
“yaudah
nanti kita tanya yaa”
----
Mereka
bersepuluh sudah bangun dari mimpi panjangnya, setelah mandi mereka berkumpul
di ruang tengah
“jadi kan
jalan-jalannya?” ucap Melody
“emm?
Enggak” balas Karel dengan wajah yang bisa dibilang sedang bersandiwara
“aah,
jadi dong Rel” rengek (namakamu)
“ahahaaa,
iya jadii apa sih yang enggak buat adek guee” ucap Karel mencubiti pipi
(namakamu)
Semua
tertawa, meninggalkan ruang tengah saat Kiky mengaba-aba untuk segera mengganti
pakaian
----
(namakamu)
sedang membenahi dirinya didepan cermin, dengan pakaian yang simple (namakamu)
terlihat sangat cantik, rok mini shifon berwarna hijau tosca, dengan baju polos
lengan panjang berwarna baby pink, sepatu sneakers wedges berwarna putih,
mempercantik penampilannya hari ini, rambut panjang yang tergerai.
“udah
siap nih, ayo dong” rengek (namakamu) pada temannya yang masih sibuk memakai
sepatu
“aduhh,
ah elo sih Steff gue jadi kepentok kan nih, duhh sakit” ucap Cassie memegang
keningnya yang memerah
“shuutt,
ihh gilaa” ucap Steffi menatap (namakamu) dengan serius
“cantik”
desis Steffi, Cassie, dan Melody secara berbarengan
“ahahahaa,
apaan sih biasaa aja tau. Yaudah yuk cepetan”
---
Mereka
sudah sampai disalah satu pusat perbelanjaan yang letaknya lumayan jauh dari
rumah (namakamu), (namakamu) memilih tempat ini karena ia rindu dengan suasana
ice skateing yang berada didalam mall ini
“gue ga
ikut main ya, gue sama Ayana mau nyari makan” ucap Karel, menggandeng Ayana,
namun saat ingin melangkah pergi tiba-tiba...
‘BRUKK’
Tubuh
(namakamu) terhempas kelantai, (namakamu) mulai pingsan kembali, penyakitnya
kembali kambuh disaat yang tidak tepat
“(NAMAKAMU)”
ucap Iqbaal dan Karel secara bersamaan
“gue
ambil mobil, kita bawa dia kerumah sakit, acara kita hari ini semua di CANCEL”
ucap Karel meninggalkan yang lainnya, Iqbaal menuju lobby agar dapat memasukan
(namakamu) kedalam mobil segera
“(namakamu),
kenapa harus sekarang” ucap Steffi menaruh kepalanya pada pundak Dinar,
“Steffi, berdoa yah semoga (namakamu) gapapa” ucap Dinar menenangkan Steffi
----
Mereka
sudah sampai dirumah sakit, Karel menaruh (namakamu) di kasur yang akan suster
bawa ke ruang UGD
1 jam
berlalu..
‘CLEK’
Karel
terkesiap mendengar suara knop pintu terbuka.
“ehhemm,
Karel, kamu berdoa yah semoga ga akan terjadi apa-apa dengan adik mu, tapi satu
yang harus kamu ketahui” ucap sang dokter memegang pundak Karel yang sedang
menunduk
“apa
dok?”
“penyakit
adik mu sudah mencapai stadium 4, dengan sering-seringnya dia kemoterapi juga
tetap tidak akan menguarngi stadium pada kanker adik mu..”
“(namakamu)
koma, saya tidak tahu kapan adik mu terbangun, dan apa tuhan masih memberinya
hidup saya tidak tahu, Karel percaya bukan hidup dan mati ada ditangan Tuhan?”
Karel mengangguk
“(namakamu)
koma?” ulang Karel, sang dokter hanya mengangguk, “yang sabar ya Rel, saya berharap
bahwa (namakamu) diberi niscaya dan dapat bersama-sama lagi dengan kalian”
“ma,
penyakit (namakamu) ga bisa di angkat?” tanya Dinar, dokter menggeleng
“baiklah,
saya ke ruang saya dulu, panggil saya jika ada apa-apa”
----
Detik
berganti menit
Menit berganti
jam
Jam
berganti hari
Hari
berganti minggu
Minggu berganti bulan
Minggu berganti bulan
Sudah 8 bulan (namakamu) terbaring di atas kasur, tanpa menunjukan reaksi
apa-apa, setiap hari Karel menemani (namakamu) pulang sekolah, dan berangkat
Karel disini tidur di rumah sakit bersama Ayana, setiap sabtu dan minggu
teman-temannya yang menunggu (namakamu).
“(namakamu),
sadar yuk. Kita ada disini, kita semua kangen sama lo, bangun yuk. Gue pengen
deh kita jalan-jalan kaya dulu” ucap Steffi menahan air matanya yang sedikit
lagi akan meleleh, memeganggi tangan (namakamu) yang tertempel infus.
(namakamu) meneteskan airamata, walaupun
keadaan nya saat ini tidak sadar *kalokomakankayagitu
----
Hari ini
20 Desember, 4 hari lagi sudah menginjak satu bulan (namakamu) tidak sadarkan
diri, dan besok tepat pada tanggal 21 Desember, (namakamu) genap berusia 18
tahun..
“saat kau
tak ada, atau kau tak disini terpenjara sepi.. ku nikmati sendiri, tak
terhitung waktu tuk melupakan mu, aku tak pernah bisa.. aku tak pernah bisa..”
Iqbaal melantunkan sebuah lagu tepat di telinga (namakamu)
----
21
Desember
Hari ini
(namakamu) berulang tahun yang ke-18
tahun..
saat
Iqbaal terbangun dari tidurnya untuk menjaga (namakamu).. jari (namakamu)
bergerak, pertanda (namakamu) sudah sadar dari tidur panjangnya
“dokk,
dok.. dokter..” teriak Iqbaal, dokter memasuki ruang dimana (namakamu) dirawat,
“Iqbaal bisa keluar dulu” ucap ramah sang dokter
----
1 jam
berlalu..
Semua
sudah berkumpul di rumah sakit, termasuk papa dan mama (namakamu), Iqbaal
memberi tahu semua bahwa (namakamu) sudah sadar, tetapi didalam ruangan masih
ada dokter, tidak tahu sedang apa
‘CLEK’
Pintu
terbuka, dokter keluar dari ruangan, membuka masker yang menutupi sebagian
wajahnya
“keluarga
(namakamu)” mama, dan papa mengahampiri sang dokter, ternasuk Karel
“gimana
dok dengan keadaan anak saya, di-dia udah sadar kan dok?” ucap mama dengan
derasnya airmata yang membasahi pipinya
“ma-maaf..
maaf bu-pak, saya dan tim dokter rumah sakit, sudah berusaha menolong
(namakamu) namun nihil, nyawanya sudah tidak dapat di tolong, jadi..” belum
sempat sang dokter Karel telah memotong ucapan sang dokter*gasopan “jadi maksud
dokter (namakamu) meninggal dok? Iya? Enggak dok, nggak mungkin” ucap Karel
menggelengkan kepalannya, sang dokter mengangguk “kanker yang dideritanya sudah
sangat parah, sudah menggerogoti sel-sel seluruh tubuhnya, maaf Karel, saya
tidak dapat menolong adik mu” sang dokter pergi berlalu meninggalkan mereka
semua yang sedang nangis histeris mendengar kabar yang menurut mereka sangat
buruk
Iqbaal
menutup matanya, menutup telinga, dan menangis sekuat-kuatnya, hatinya teriris
mendengar ucapan sang dokter, bahwa perempuan yang sangat ia sayangi harus
pergi meninggalkannya dalam jangka waktu yang sangat cepat
“(NAMAKAMUUUU)”
teriak Iqbaal, Iqbaal melihat (namakamu) tertidur, tidak akan bangun lagi,
tersenyum mengantar kepergiannya, tertidur dengan balutan kain putih, dan sudah
terbujur kaku, mesin ESC yang sudah bergambar garis pertanda sang pasien sudah
berbeda alam dengan mereka, Iqbaal mendekap tubuh (namakamu) dengan erat,
menangis sejadi-jadinya, mencium kening (namakamu) yang sudah terbujur kaku,
“jangan tinggalin aku (namakamu) aku sayang kamu, jangan tinggalin aku ssecepat
ini, (namakamu) bangun, bangun (namakamu)” ucap Iqbaal mengguncang-guncangkan
tubuh (namakamu) yang sudah putih pucat, kaku, dingin.
“Iqbaal..”
suara itu, suara lembut yang sangat Iqbaal kenali, yaa suara (namakamu)
“(namakamu)?” ucap Iqbaal menoleh kearah suara “gue Steffi, (namakamu) udah ga
ada baal, dia udah pergi, di hari ulang tahun dia, dia pergi ninggalin kita
semua. Baal, lo harus bisa ngelepas (namakamu), biarkan dia tenang di sana
baal, lo harus bisa.” Ucap Steffi menenangkan Iqbaal
“gue ga
bisa Steff, gue sayang banget sama dia, gue ga mau kehilangan dia gue ga mau
steff” ucap Iqbaal mulai mengacak-acak rambutnya sendiri
“lo baca
ini” Dinar memberikan sesuatu pada Iqbaal, sebuah buku berwarna biru sudah
berada dalam genggaman Iqbaal
“dear dairy
Tuhan..
Terimakasih,
sudah mempertemukan ku dengan Iqbaal, seorang yang dapat merubah hidup ku
menjadi lebih berwarna, terimakasih tuhan, telah menghadirkan Iqbaal dalam
hidup ku, Iqbaal adalah motivator ku saat aku terpuruk mendengar bahwa aku
mengidap penyakit kanker. Tuhan, hanya satu pinta ku, buat Iqbaal tetap
menyayangi ku disaat aku sudah tiada, aku sayang Iqbaal
Love (namakamu)
Jakarta, 12 Februari 2014”
“Dear dairy..
Tuhan..
Aku tahu
tentang penyakit ku, aku tahu hidup ku tidak akan lama lagi. Setelah aku di
diagnosis mengalami penyakit Kanker, rasanya aku ingin mengakhiri hidupku dengan
cepat, tanpa harus menunggu kanker ku semakin parah. Tuhan, jika nanti, esok,
lusa, atau kapan aku meninggal, aku hanya meminta, bawa pulang mama, papa ku
kesini, agar mereka bisa melihat ku saat terakhir kalinya, agar dapat memeluku
terakhir kalinya, agar dapat mencium ku untuk terakhir kalinya, agar dapat
melihat jazad ku yang sedang tertidur berbalut kain putih, disaat itulah aku
merasakan ketenangan yang abadi, yang
tidak pernah aku rasakan, dan satu lagi, aku hanya ingin membuat mereka semua
tersenyum termasuk teman-teman ku. Iqbaal, aku akan tetap mencintai kamu walau
pun aku sudah tidak berada disisimu lagi, aku ingin kamu memeluk jazad ku untuk
yang terakhir kalinya, mencium jazad ku, tetapi jangan menangisi ku. Aku sayang
kalian.
Love (namakamu)
Jakarta, 24 Maret
2014”
Iqbaal mulai mengeluarkan airmatanya lagi, mengingat senyuman manis yang dibuat oleh (namakamu), membayangkan wajah (namakamu) saat tersenyum manis, Iqbaal tidak dapat menahan airmatanya saat ini, tangisnya kembali meledak mengingat ucapan yang (namakamu) ucapkan ‘ka..kalo misalkan nanti, besok, atau lusa aku udah nggak ada gimana? Apa kamu masih anggap aku cewe kamu baal?’ ucapan itu kembali terputar didalam otak Iqbaalm seperti roll film yang akan mengulang film
Iqbaal mulai mengeluarkan airmatanya lagi, mengingat senyuman manis yang dibuat oleh (namakamu), membayangkan wajah (namakamu) saat tersenyum manis, Iqbaal tidak dapat menahan airmatanya saat ini, tangisnya kembali meledak mengingat ucapan yang (namakamu) ucapkan ‘ka..kalo misalkan nanti, besok, atau lusa aku udah nggak ada gimana? Apa kamu masih anggap aku cewe kamu baal?’ ucapan itu kembali terputar didalam otak Iqbaalm seperti roll film yang akan mengulang film
“baal, udah
jangan nangis, ikhlasin (namakamu), biarin dia tenang” ucap Kiky, merangkul Iqbaal
----
Sore ini..
Acara pemakaman
(namakamu) sudah selesai, (namakamu) sudah tenang di alam barunya..
“hkksss.hkss..”
sesekali terdengar sesakan tangis dari kesembilan orang yang sedang menangisi kepergian
(namakamu), orang yang menurut mereka itu; penyabar, baik, tidak egois, selalu tersenyum
“(namakamu)”
desis Karel di tengah isakannya “lo kenapa tinggalin gue? Kenapa? Kenapa lo harus
ninggalin gue disaat gue ga mau kehilangan lo, cukup Bagas yang pergi ninggalin
gue (namakamu), cukup Bagas, bukan lo.. gue ga punya ade lagi, gue sekarang sekolah
sendiri, gue ga punya temen curhat lagi, temen curhat gue Cuma lo (namakamu), jangan
tinggalin gue..” ucap Karel dengan tangisnya
“rel, udah
jangan nangis, (namakamu) ga akan tenang kalo terus terusan di tangisin. Kita pulang
yuk, udah mau hujan” ucap Ayana yang menyeka airmata yang jatuh di pipi Karel, Karel
menggeleng “gue mau disini, sampe gue puas” balas Karel memegan nisan (namakamu)
‘(namakamu)
tenang ya disana, aku janji ga akan ninggalin kamu, aku sayang kamu, aku akan anggap
kamu pacar aku, kapan pun itu. Aku sayang kamu’ gumam Iqbaal dalam hati, “Karel,
Steffi, Cassie, Melody, Kiky, Aldy, kak Ayana, Iqbaal, yuk kita pulang. Kita kirim
doa buat (namakamu) biatr dia tenang” ucap Dinar menatap semuanya secara satu persatu,
semua menggeleng.
“(namakamu),
kita bersembilan ga akan lupa sama lo, kita akan selalu kenang lo, lo ada di hati
kita ga akan berubah sama sekali, tenang di sana yaa. Gue pamit pulang, bye (namakamu)
gue sayang lo” ucap Melody, mulai berdiri dan di ikuti oleh Kiky, Aldy, dan Cassie
“kita pamit pulang dulu ya, Karel, Iqbaal, kak Ayana”
Hanya tersisa
mereka bertiga di pemakaman ini “Iqbaal, gue mau ngasih ini” ucap Karel memberi
selembar kertas pada Iqbaal
‘untuk yang tercinta: Iqbaal
Haii, Iqbaal, aku
tahum ketika kamu baca surat aku, aku udah nggak ada disamping kamu, dan kalian
untuk selamanya, tapi raga aku ga akan pisah dari kalian, simpan aku di hati kamu
ya Iqbaal, jangan biarkan ada orang lain yang berani geser posisi aku di hati kamu,
walaupun nanti kamu akan dapat pengganti ku. Iqbaal, aku tahu kamu sudah tau penyakitku
sebelum aku mengetahuinya. Jangan lupain aku ya Iqbaal, aku sayang sama kamu.. <3
(namakamu)
Jakarta, 21 April
2014'
-TAMAT-
'aku belajar menjadi seseorang yang dapat menerima kenyataan, aku belajar mengikhlaskan sesuatu yang memang bukan untuk ku, aku belajar benar dari semua kesalahan ku, dan aku belajar menjadi orang tegar dari setiap masalah yang aku punya dari orang-orang yang sudah menyakiti ku, aku berusaha menguatkan diri ku sendiri karena orang di sekitar ku yang sayang kepada ku' (namakamu)
'aku belajar menjadi seorang pria yang tulus, setia dan bertanggung jawab dari orang-orang yang aku lihat, aku belajar untuk berusaha sabar untuk mengiklaskan orang yang ku sayang pergi dari orang terdekat ku, aku belajar kasih dan sayanng dari kedua orangtua ku' Iqbaal
'satu orang yang sangat berarti dalam hidup ku sudah pergi dengan tenang, menyusul seseorang disana, aku memiliki kesabaran, aku bersabar karena kedua orang yang aku sayang sudah pergi dari hidup ku, aku berusaha tegar namun tidak bisa, aku masih terus mengingat kebaikan mereka berdua. kelucuan, mereka berdua sangat sulit dilupakan dari ingatan ku' Karel
'wajahnya, senyumannya, tatapannya, itu yang membuatku sangat sulit melepaskan mu. aku akan sulit melupakan mu, karena kamu aku dapat berubah dari kehidupan lama ku' Iqbaal
--------------------------------------------------------PATIENCE----------------------------------------------------------
^PATIENCE^
---PART 8---
AUTHOR: DEASYANA PUTRISYA LARASATI
SORRY TYPO DAN GAJE
AUTHOR: DEASYANA PUTRISYA LARASATI
SORRY TYPO DAN GAJE
----
Mereka berempat sudah sampai dirumah sakit dimana
(namakamu) akan menjalankan first kemoterapinya
(namakamu) sudah masuk kedalam ruang kemo, Iqbaal,
Karel, dan Ayana menunggu diruang tamu, mereka sibuk membicarakan sesuatu yang
sepertinya sangat serius
“baal, kamu janji ya jangan sakitin (namakamu), aku
kasian kalo ngeliat dia disakitin sama laki-laki untuk yang kedua kalinya, aku
harap hubungan kalian ga ada pengganggunya ya” ucap Ayana menatap Iqbaal
“iya kak, aku janji ga akan nyakitin dia, aku janji
akan buat (namakamu) bahagia, kapan pun itu” balas Iqbaal dengan yakin
“makasih baal, gue harap (namakamu) anggap lo orang
terspecial setelah gue dan nyokap bokap gue” Iqbaal hanya mengangguk
1 jam kemudian...
(namakamu) sudah dipindahkan keruang rawat, kini
keenam sahabat terbaik (namakamu) sudah datang termasuk Dinar
“gue mau bilang ke lo semua, makasih udah buat
(namakamu) senyum, makasih udah buat (namakamu) lupa akan penyakitnya berkat
canda dan tawa kalian, gue gatau harus gimana kalo ga ada kalian, makasih ya.
Dan maaf kalo (namakamu) sering pingsan jadi ngerepotin kalian semua, kalian
itu malaikat yang dapat dilihat di kehidupan gue sama (namakamu)” ucap Karel
ditengah candaan mereka, dan membuat yang lainnya berhenti mendengar ucapan
Karel
“enggak Rel, (namakamu) sama sekali ga ngerepotin kita
kok, bagi kita tolong menolong dalam suatu persahabatan itu biasa, masa iya
sahabat lagi susah kita harus seneng? Enggak kan? Jadi susah bareng-bareng
senang bareng-bareng, itu prinsip persahabatan kita rel” balas Cassie dengan
suara yang masih agak belepotan, Karel tersenyum dan semua tersenyum
----
(namakamu) sudah diperbolehkan pulang, karena
kemoterapinya sudah selesai, sudah dua hari (namakamu) mengetahui tentang
penyakitnya dua hari pula sifatnya mulai berubah menjadi lebih pendiam dan
lebih banyak melamun, dua hari sudah (namakamu) tidak masuk sekolah
Malam ini, angin berhembus dengan kencang membuat anak
rambut (namakamu) menari-nari, malam ini bulan memancarkan sinarnya dengan
redup, bintang menemani bulan disisinya, seorang gadis tengah berdiri dibalkon
kamarnya, tatapannya tertuju pada bintang-bintang yang bertebaran dilangit
“hhffhh, enak ya jadi bulan bisa liat semua orang dari
atas sana”
“tapi jadi bulan itu ga enak, dia ga bisa memancarkan
cahanya sendiri, dia masih butuh bantuan cahaya dari matahari, dan dia masih
harus ditemanin oleh bintang-bintang agar dapat menerangi bumi” ucap seorang
laki-laki yang tepat berdiri dibelakang (namakamu), sontak membuat (namakamu) menoleh
“Iqbaal” desis (namakamu), Iqbaal tersenyum manis,
menatap (namakamu) dengan tatapan yang teduh
“makan yuk, aku bawain makanan sama minuman kesukaan
kamu loh” ucap Iqbaal seraya merangkul (namakamu), (namakamu) tersenyum dan
mengangguk
Malam itu, Karel, Iqbaal, dan (namakamu) menghabiskan
waktunya bersama
----
Detik berganti menit
Menit berganti jam
Jam berganti hari
Hari berganti minggu
Minggu berganti bulan
Tepat sudah dua bulan (namakamu) menjalin hubungannya
dengan Iqbaal, dengan keadaan (namakamu) yang seperti ini
Hingga pada suatu malam Iqbaal mengajak
teman-temannya, Karel, dan Ayana untuk pergi berlibur karena hari jadi
hubungannya dengan (namakamu) tepat pada hari weekend
Hari sabtu pagi mereka ber sepuluh #banyakamat-,-
berkumpul di rumah (namakamu), tepat pukul 09.00 WIB, mereka berangkat menuju
Anyer, tepat pukul 12.00 mereka sampai di tempat tujuan, mereka memesan cottage
yang lumayan besar yang berisi lima kamar tidur, dua kamar mandi, ruang kumpul,
dapur, dan balkon, dengan view yang menghadap lurus kepantai
“kepantai yukk, kita foto-foto disanaa” ajak Steffi
pada yang lain, yang sibuk dengan ponselnya masing-masing, lain halnya dengan
Iqbaal, (namakamu), Karel, dan Ayana, mereka berempat sibuk foto-foto didalam
cottage ini
“ayoo Steff, gue juga mau kepantai, bareng gue aja
yuk” ucap Dinar dengan senyuman manisnya
“ikutt dongg, jangan berduaan aja nanti keganggu setan
loh” ucap Aldy, yang mendapat anggukan serempak dari Kiky, Cassie, dan Melody
“yaudah ayo”
Mereka ber sepuluh sudah berdiri ditepian pantai,
Iqbaal dan (namakamu) pisah dari yang lainnya, mereka berdua memilih dermaga
yang sepi,
‘HENING’
Keduanya lebih memilih diam, karena bingung apa yang
akan mereka bicarakan
“hmm, baal” ucap (namakamu) memecahkan keheningan,
Iqbaal menoleh dan menggernyitkan kedua alisnya
“aku mau nanya boleh?” tanya (namakamu) merubah posisi
berdirinya menjadi menghadap Iqbaal, yang semula memegang pegangan di dermaga
dan menatap air laut yang jernih
“boleh, nanya apa? Nanya aja” jawab Iqbaal menatap (namakamu)
dengan teduh
“ka..kalo misalkan nanti, besok, atau lusa aku udah
nggak ada gimana? Apa kamu masih anggap aku cewe kamu baal?” tanya (namakamu)
dengan wajah polosnya
“heyy, kamu nggak boleh ngomong kaya gitu, aku akan
anggap kamu cewe aku selamanya, karena kamu ada disini, dihati aku” jawab
Iqbaal menaruh lengan (namakamu) didepan dadanya, (namakamu) tersenyum
‘BRUK’
(namakamu) memeluk Iqbaal dengan erat, Iqbaal membalas
pelukan (namakamu). Setelah puas menghabiskan waktu berduaan, Iqbaal dan (namakamu)
menghampiri yang lainnya
“oiii, berduaan aja, abis kemana loo?” ledek Kiky pada
Iqbaal yang baru saja datang, ......... hanya tersenyum mendapat ejekan
tersebut
“ahahah... diemin ajaa dia abis berduaan sama cewenya,
maklum laah Ky kan nanti malam mereja anniv jadi ya harap maklum aja laah” ucap
Dinar
“apaan sih, hahah yaudah yang penting kan gue sama
Iqbaal udah balik kesini dan ga lama ninggalin kalian” balas (namakamu) dengan
senyuman manisnya, mereka bersepuluh menghabiskan waktu dipantai dan menikmati
sunset disana
----
Malam harinya, mereka mencari makan didaerah pinggir
pantai, mereka memilih tempat makan yang berada di outdoor dengan view yang menghadap pantai. Angin berhembus
dengan kencang menembus kulit tiap insan yang berada disini.
“happy satnight, jalani malam minggumu dengan pasangan
kalian masing-masing” ucap Dinar merangkul Steffi, semua terkejut melihat Dinar
yang merangkul Steffi, ternyata Dinar dan Steffi menjalin hubungan diam-diam,
begitu pun dengan Aldy-Melody, Kiky-Cassie
“jadi kalian berdua pacaran diem-diem? Ohh jadi kita
ga dikasih tau nih? Oh ga solid ya kalian sama kita” ucap (namakamu)
memanyunkan bibirnya
“hahahaa, bukan gitu. Ceritanya kita mau ngasih tau
kalo kita pacaran tuh pas tengah malam, tapi gue malah keceplosan jadi yaa gini
dehh” ucap Dinar dengan senyum manisnya
“pantesan aja dari tadi tuhh kalian berdua nempeeel
terus kaya kertas kena lem, lain halnya aku sama Karel” Ayana merubah posisi
duduknya menjadi disamping (namakamu), Karel yang mendengarnya hanya menggernyitkan
alisnya “ahaha, kasian kakak sayang, Karel kasian nih kakak gue. Lo gimana sih,
awas aja kalo kakak gue sampe nangis, nih lo dapet ginian” balas (namakamu)
merangkul Ayana, dan menunjukan lipatan tangannya untuk membogem Karel, Karel
hanya tertawa kecil, “iya enggak ade gue sayangg, gue ga akan bikin kakak
tersayang lo nangis.” Karel mendekati (namakamu) dan
‘CUP’
Karel mencium kening (namakamu), dan merangkul Ayana
“wess, bang punya gue tuh bang. Main cium-cium ajaa,
gue kasih cumi-cumi ntar kalo cium-cium cewe gue” ucap Iqbaal, semua tertawa
mendengar ucapan Iqbaal..
‘makasih tuhan, udah buat (namakamu) lupa akan
penyakitnya saat ini’ gumam Karel dalam hati. Mereka semua menghabiskan makan
malamnya, dan balik menuju cottage mereka.
12.00
Mereka bersepuluh keluar dari cottage, menuju dermaga
untuk merayakan anniv iqbaal dan (namakamu) yang sudah menginjak dua bulan
(namakamu) dan Iqbaal mengucapkan wish mereka
masing-masing
02.00
Mereka kembali ke cottage dan menuju ‘PulBan’
masing-masing
----
Minggu pagi, suara ombak terdengar jelas di tiap
telinga insan yang sedang berada ditepian pantai ini, burung-burung berkicauan.
Kedua insan berbeda jenis ini sedang menikmati angin pagi disekitar pantai.
Iqbaal dan (namakamu), dua insan yang sedang menembus dinginnya
semilir angin pantai pada pagi hari, ingin menghabiskan waktu terakhirnya
bersama sang kekasih *apabangetgue
“ga terasa ya (namakamu), kita udah dua bulan pacaran,
aku jadi makin sayang sama kamu” Iqbaal mentap (namakamu), merangkul dan
tersenyum, (namakamu) membalas senyuman Iqbaal “aku juga”
Mereka berdua sudah kembali ke cottage,
----
Mereka bersepuluh tengah merapikan barang-barang yang
mereka bawa untuk kembali ke Jakarta. Setelah pasti tidak ada yang tertinggal mereka segera checkout
dari cottage itu.
----
Empat jam perjalanan menuju Jakarta, tidak terasa
sangat membosankan bagi mereka semua, karena perjalanannya diselingi canda dan
tawa
“abis ini mau langsung pulang apa mau jalan-jalan
lagi?” tanya Karel, matanya tertuju pada spion atas untuk melihat adik-adiknya
yang sedang berbicara sesuatu
“pulang ke rumah (namakamu), kita party lagi disanaaa”
seru Steffi
“setujuuu” ucap (namakamu)’s serempak
“whaatt? Kalian apa pada ga cape ya? Hahah yaudah
yaudah, nanti kita party lagi deh” balas Ayana seraya terkekeh melihat tingkah
laku ke delapan adik kelas yang menurutnnya ‘agak sedikit aneh’
----
Mereka bersepuluh sudah sampai di ‘basecamp’ mereka,
rumah (namakamu) dan Karel lah yang menjadi sasaran empuk mereka, namun Karel,
(namakamu), dan kedua orangtuanya tidak merasa keberatan atas kedatangan
kedelapan bocah-bocah rempong
“haahhff, mau party apaan lagii? Kita udah kehabisan
ide tau Stef” ujar Cassie, menatap tajam kearah Steffi
“karena besok libur, kita nginep disini semalam lagii,
jadi nanti malam, kita party barberque” jelas Dinar, semua mengangguk
menyetujui acara yang sudah disusun oleh sepasang kekasih yang senang berkumpul
----
‘TOK..TOK..TOK’
Suara ketukan pintu terdengar, semua menoleh ke arah
sumber suara, setelah dua puluh menit menunggu akhirnya pesanan mereka datang
“yoo, dimakann..” seru Aldy, mulai membuka bungkus
makanan tersebut
“wettss, napsu banget lo dy” balas Iqbaal menoyor
kening Aldy
“laper gue brooh” jawab Aldy santai, semua tertawa
terbahak mendengar ucapan Aldy disertai wajah polosnya
‘tuhan, aku pasti sangat merindukan suasana yang
seperti ini, bahkan bukan hanya aku saja, tapi mereka juga’
----
Bulan sudah menggantikan posisi matahri malam ini,
dengan suasana dingin yang menyeruak, menembus masuk kedalam tubuh setiap
manusia melalui pori-pori tubuh. Suasa sehabis hujan membuat orang
bermalas-malasan malam ini, tetapi tidak dengan sepuluh orang ini
“asiik, kita nginep dirumah (namakamu) lagii, kita kan
akhir-akhir ini jarang banget nginep disini” seru Cassie memasukan beberapa
buah chiki kedalam mulutnya, Kiky mengangguk dan merangkul Cassie. “emmm, besok
jalan-jalan yuk, sekalian refreshing kan besok terakhir kita kumpul-kumpul kaya
gini” ucap (namakamu) menatap temannya satu per satu, ‘terakhir kalinya?
Maksudnya apa? Kenapa harus terakhir?’ gumam Steffi dalam hati.
“kok terakhir? Kan masih ada lain waktu” ucap Aldy
dengan wajah polosnya, (namakamu) hanya tersenyum dan menggeleng, semua heran
dengan tingkah (namakamu)
“aam, yaudah yuk kita makan, udah waktunya makan
malem” ucap Karel memecahkan keheranan *apasih
Mereka semua menikmati makan malam yang tersedia tanpa
memikirkan ucapan yang diucap (namakamu) tadi
----
Pagi harinya, (namakamu) terbangun dari tidurnya,
leboh awal dari yang lain. Entah mengapa saat ini (namakamu) ingin menulis kan
sesuatu dalam buku hariannya
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dear dairy..
Tuhan..
Aku tahu tentang penyakit ku, aku tahu hidup ku tidak akan
lama lagi. Setelah aku di diagnosis mengalami penyakit Kanker, rasanya aku
ingin mengakhiri hidupku dengan cepat, tanpa harus menunggu kanker ku semakin
parah. Tuhan, jika nanti, esok, lusa, atau kapan aku meninggal, aku hanya
meminta, bawa pulang mama, papa ku kesini, agar mereka bisa melihat ku saat
terakhir kalinya, agar dapat memeluku terakhir kalinya, agar dapat mencium ku
untuk terakhir kalinya, agar dapat melihat jazad ku yang sedang tertidur
berbalut kain putih, disaat itulah aku merasakan ketenangan yang abadi, yang tidak pernah aku rasakan,
dan satu lagi, aku hanya ingin membuat mereka semua tersenyum termasuk
teman-teman ku. Iqbaal, aku akan tetap mencintai kamu walau pun aku sudah tidak
berada disisimu lagi, aku ingin kamu memeluk jazad ku untuk yang terakhir kalinya,
mencium jazad ku, tetapi jangan menangisi ku. Aku sayang kalian.
Love (namakamu)
Jakarta, 24 Maret 2014
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---BERSAMBUNG---
Langganan:
Komentar (Atom)