AUTHOR: DEASYANA PUTRISYA LARASATI
SORRY TYPO DAN GAJE
----
Semua
sudah selesai menghabiskan makanan yang Iqbaal beli tadi, saat mereka semua
sudah selesai makan, Iqbaal terdiam, memandangi tubuh (namakamu) dari sofa yang
jaraknya tidak terlalu jauh dari ranjang tempat dimana (namakamu) tertidur ‘gue
ga ngebayangin kalo (namakamu) nanti akan tidur selamanya, dan ga akan bangun
lagi’ ucapnya dalam hati, matanya mulai
berair, tanpa sadar, ternyata sedari tadi Steffi memanggil namanya,
namun Iqbaal tak sadar “Iqbaal! Isshh lo kenapa sih?”bentak Steffi, Iqbaal
hanya menggeleng, “kita nginep kaan?” tanya Steffi, Iqbaal hanya mengangguk
----
Pagi
harinya Iqbaal bangun lebih awal daripada yang lainnya, sepertinya hari ini
(namakamu) sudah diperbolehkan pulang, Iqbaal berdiri di samping ranjang
membelai pelan rambut (namakamu), Iqbaal memperhatikan seluet wajah (namakamu),
baru pertama kali ia melihat wajah (namakamu) dengan jarak yang sangat dekat
“eeh, (namakamu) udah bangun. Gimana? Udah agak enakan?” tanya Iqbaal pada
(namakamu), (namakamu) tersenyum dan mengangguk, semua terbangun karena
mendengar suara Iqbaal dan (namakamu) yang cekikikan “ahaha, maaf yaa gara-gara
gue kalian jadi pada bangun” ucap (namakamu) dengan nafas yang tersenggal,
mereka hanya mengangguk, tak merasa terganggu karena mellihat (namakamu)
tertawa itu adalah suatu yang sangat berharga bagi mereka #apasih
Steffi
merapikan keperluan (namakamau) yang dibawakan Karel kemarin, (namakamu) hanya
sibuk memainkan ponselnya
‘CLEK’
Pintu
kamar terbuka, Dinar memasuki kamar (namakamu) “Dinar?” ucap (namakamu) seraya
tersenyum “udah boleh pulang?” (namakamu) mengangguk “lo Dinar temen Iqbaal?
Darimana tau (namakamu) di rawat disini?” tanya Steffi yang sekarang sedang
terduduk memainkan ponselnya “jadi gini..” ucap Dinar dan (namakamu) secara
berbarengan “haha, lo aja deh..” balas (namakamu) seraya tersenyum, “ahaha,
jadi gini, kemaren pagi tuh, gue lagi ketaman, ga sengaja gue ketemu
(namakamu), terus yang gue ga sangka itu ternyata mama gue dokter yang nanganin
dia. Jadi gue tau (namakamu) ada dikamar mana dari mama gue” balas Dinar dengan
senyuman manisnya, Steffi mengangguk “(namakamu) pulang yuk, Karel udah ada di
depan” ajak Steffi, (namakamu) hanya mengangguk, dan turun dari ranjang “emm,
Steffi ya? Gue boleh ikut ke rumah (namakamu)?” tanya Dinar sambil membantu
Steffi membawa peralatan (namakamu) “boleh” jawab Steffi singkat
----
“Rel, mau
kemana? Ini kan bukan jalan pulang?” “emang lo mau pulang? Emang harus secepat
itu?”
Sementara
disisi lain Steffi berangkat dengan Dinar, Steffi sengaja karena ia tahu Dinar
tidak akan tahu akan dibawa kemana (namakamu)
Disisi
lain juga Iqbaal, Cassie, Melody, Ayana, dan Kiky sedang berada di sebuah taman
dengan view sebuah danau, ada rumah pohon yang lumayan besar sedang menambahkan
sedikit dekorasi untuk mempercantik lokasi
----
“Rel,
lebay deh pake di tutup segala mata gue, lepasin dong aah galucu Rel” ringis
(namakamu) dengan tanggan yang menggenggam erat tangan Karel, “sabar ajah,
dikit lagi kita sampe (namakamu)”
Karel dan
(namakamu) telah sampai didanau dimana lokasi penyambutan ‘kembalinya
(namakamu) di lingkaran sejati’
“buka
mata lo perlahan-lahan, 1...2...3...”
“taraaaaa,
happy welcome back (namakamu)” ucap semuanya dengan wajah yang engggg-,-
sumringah
“duh
apaan sih, gini doang aja pake dibikin acara kaya gini, hahah, tapi makasih ya
makasih, jadi makin gamau pisah deh dari kaliaan. Aaa love you all” ucap
(namakamu) dengan senyuman manis yang mengembang di bibir mungilnya, semua
sempat terdiam mendengar ucapan (namakamu) ‘jadi makin gamau pisah deh dari
kalian’ mungkin didalam hati mereka berkata ‘gue juga gamau pisah sama lo
secepat ini’ mungkin itu
Mereka
bercanda tertawa, tanpa merasa terbebani adanya Dinar di antara mereka, bahkan
Iqbaal sendiri tidak merasa cemburu (namakamu) lebih asik dengan Dinar,
begitupun sebaliknya (namakamu) tidak merasa cemburu Iqbaal lebih asik dengan
Steffi
‘ini
saatnya, saat gue harus bilanng semua tentang penyakit yang (namakamu) derita’
ucap Karel dalam hati
“hmmm,(namakamu)”
(namakamu) menoleh ke arah Karel dan menautkan alisnya
‘HENING’
Semua
terrdiam karena mereka tau bahwa Karel akan memberi tahu apa yang sebenarnya,
kecuali (namakamu) dia bingung mengapa semua terdiam dan menatapnya dengan
tatapan yang aggh, tatapan ibaa “kenapa sih? Kok pada diem semuanya?” ucap
(namakamu) heran
“lo-lo
tau apa penyebabnya lo-lo sering muntah, pingsan, lupa ingatan, hilang
pendengaran?” tanya Karel merubah posisi duduknya menjadi disamping kanan
(namakamu) dan merangkulnya sedangkan Iqbaal duduk tepat disamping kirinya,
(namakammu) menggeleng “ga tau, emang gue kenapa Rel? Gue ga punya penyakit
apa-apa kan Rel? Jawab Rel” Karel terdiam
‘ya
Allah, sungguh Karel nggak kuat kalau harus liat (namakamu) nangis nantinya’
gumam Karel ‘kamu punya penyakit (namakamu) dan itu.. ahh aku ga mau kehilangan
kamu, aku sayang kamu’ ucap Iqbaal dalam hatinya ‘(namakamu) gue gamau liat lo
nangis setelah lo tau apa yang lo derita selama ini, (namakamu) kuat yaah,
Steffi sayang (namakamu)’
“Rel?
Jawab, jangan diem ajah” ucap (namakamu) sedikit menundukan wajahnnya agar
dapat menatap wajah Karel yang menunduk
“tapi lo
janji, setelah lo tau semuanya lo ga boleh nangis, ga boleh nyerah kedepannya,
dan satu hal yang terpenting buat lo.. lo harus tetap tersenyum apapun yang lo
alami sekarang, gue—kita—semua janji bakal selalu ada buat lo, kapan pun itu,
mau lo lagi seneng, mau enggak kita
janji akan selalu ada buat lo (namakamu)” “yaudah Rel, sekarang jelasin gue
sakit apa sebenarnya” ucap (namakamu) dengan tatapan yang memohon
“tapi lo
janji dulu”
“iya
Karelll, gue janji ga akan nangis kalo denger apa yang gue derita”
“loo-lo
sakitt, sa-sakit kanker otak (namakamu)”
‘DEG’
Seperti
ada anak panah yang menusuk rongga paru-paru (namakamu) saat ini,
mendengar ucapan yang terlontar dari
mulut Karel membuat (namakamu) ingin menangis sejadi-jadinya
“kan-kanker
oo-otak Rel? Gue sakit kanker otak? Enggak Rel, ga mungkin enggak, gue ga
mungkin Rel punya penyakit kanker enggak rel.. hkss” ucap (namakamu) dengan air
mata yang mulai meleleh membasahi pipinya saat ini, semua mengangguk dan
perlahan-lahan mulai mengeluarkan air matanya “iya (namakamu), gu-gue juga
sempet ga percaya ka-kalo lo punya penyakit kanker otak, tapi itu (namakamu)
kenyataannya” balas Karel dengan suara yang bergetar “Rel, lo bohong kan sama
gue? Jujur Rel, jujur!! Gue ga suka kalo di bohongin kaya gini, gue gasuka!!”
kini tangis (namakamu) mulai mengerang, mendengar dari erangan tangisan itu
sepertinya cukup menyayat hati #plaak “(namakamu) udah jangan nangis, kan
(namakamu) udah janji sama kita, kalo nanti (namakamu) udah tau apa yang
(namakamu) derita (namakamu) ga akan nangis, jangan nangis yaa kakak sayang
(namakamu) kakak udah anggap (namakamu) sebagai adik kakak sendiri, walaupun
kakak Cuma pacarnya Karel. (namakamu) jangan nangis lagi ya, kakak tau kok
(namakamu) itu orangnya tegar, kakak liat waktu kamu disakitin sama mantan kamu
kakak liat kamu itu tegar, bahkan kamu bisa ngellupain dia secepat itu, jangan
nangis ya (namakamu), kakak sayang (namakamu)” ucap Ayana mengelus puncak
kepala (namakamu) “tapi kak, aku ga nyangka kalau aku bakal sakit separah ini,
setau aku kalo orang yang punya penyakit kanker itu akan pergii, (namakamu)
gamau kalo (namakamu) ninggalin Karel, Iqbaal, Steffi, Kiky, Cassie, sama yang
lain, (namakamu) gamau kak, (namakamu) gamau..hks, Karel, waktu itu kenapa ga
bilang kalo gue punya penyakit kanker? Kenapa? Haa? Karel, lo bilang sendiri
kan kalo lo ga akan pernah bohong sama gue, dan ternyata apa? Lo bohong
Rel!!hkss”
“(namakamu),
Karel itu ga bohong, dia Cuma ga mau lo makin nge-drop, dia mau cerita sama lo
saat kondisi lo udah stabil” timpal Steffi menyeka airmata (namakamu) yang
masih terus meleleh “(namakamu) udah jangan nangis, kalo kamu nangis aku makin
sedih (namakamu), jangan nangis yaa” ucap Iqbaal memeluk (namakamu), biarkan
(namakamu) menangis dalam dekapan Iqbaal, kini baju yang Iqbaal kenakan basah
akibat airmata (namakamu) yang terus mengalir “tapi aku ga percaya Baal,”
Mereka
hanyut dalam suasana duka yang terjadi disaat ini, suasana yang semula ceria
menjadi haru akibat Karel menjelaskan apa yang (namakamu) derita saat ini
daaan... seterusnyaa
----
Malam
harinya, (namakamu) masih berada didalam kamarnya, tidak berada disamping Karel
yang tengah menonton televisi diruang tengah
‘CLEK’
Karel
memasuki kamar (namakamu), terlihat (namakamu) yang sedang duduk dibalkon
kamarnya dengan tatapan kosong
“(namakamu)” (namakamu) hanya menoleh kearah Karel tanpa adanya senyuman yang
terukir dibibir manisnya saat ini, yang terlihat hanyalah mata yang sembab,
pipi yang basah, dan adanya airmata yang jatuh dari mata indahnya
“jangan
nangis ya, besok kita mulai kemoterapi biar lo cepet sembuh, tapi lo besok ga
usah sekolah dulu ya, dokter belum ngizinin lo sekolah. Jangan nangis lagi, lo
kan udah janji sama gue kalo lo udah tau lo ga akan nangis, iya kan? Senyumnya
mana?” ucap Karel mengelus puncak kepala (namakamu), (namakamu) tersenyum
mendengar ucapan Karel
‘CUP’
Satu
ciuman mendarat mulus dikening (namakamu), ini adalah pertama kalinya Karel
mencium (namakamu)
“minum
obat yah, biar cepet sembuh”
“gue
minum obat itu ga menjamin kalo gue akan sembuh Rel, enggak sama sekali” Karel
hanya menggeleng mendengar (namakamu) berbicara seperti itu “hey, ga boleh
ngomong gitu, kamu tau? Kadang tuhan memberikan kita mukzizat yang kadang kita
sendiri tidak percaya menerimanya” ucap Iqbaal
yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar (namakamu)
“minum
obat yah, aku mau liat princess aku sembuh, ga sakit lagi bebas dari penyakit,
ga ngerepotin diri kamu juga kan? Coba bayangin kalo kamu sakit, kamu harus
terus-terusan minum obat, terus kamu harus nahan rasa sakit kamu itu yang
kadang kita-kita sendiri enggak tau, ayo (namakamu) minum obat yah? Kata kamu
kamu ga mau kehilangan kita semua, begitupun kita, kita semua ga mau kehilangan
kamu. Makanya kamu minum yah obatnya” pinta Iqbaal kepada (namakamu),
(namakamu) menganggukan kepalanya Karel meninggalkan Iqbaal dan (namakamu),
karena Karel tahu bahwa Iqbaal lah yang mampu merayu (namakamu)
----
Bulan sudah kembali keperadabannya, kini mentarilah
yang menggantikan tugas bulan pada pagi ini.
Seorang
gadis cantik sedang tertidur pulas dalam ranjangnya, seperti tidak ingin
diganggu mimpinya akibat harus sekolah
‘CLEK’
Pintu
kamar terbuka, Karel mengintip dibalik pintu, ternyata adik kesayangannya masih
tertidur
“cepet
sembuh ya, gue ga mau kehilangan adek gue yang kedua kalinya (namakamu)” ucap
Karel dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
---Flashback
on---
Adiknya
yang kedua kali? Apa maksudnya? Ya, sebenarnya Karel dan (namakamu) memiliki
satu adik laki-laki yang bernama Bagas, (namakamu) dan Karel sangat menyayangi
Bagas, namun tuhan lah yang lebih sayang hingga mengambil kembali adik mereka
dalam penyakit tumor ganas yang merenggut nyawa Bagas.
---flashback
off---
Saat
Karel ingin beranjak pergi meninggalkan (namakamu), (namakamu) menggenggam erat
tangan Karel
“jangan
tinggalin (namakamu), (namakamu) mau sama Karel, (namakamu) sayang Karel.
Jangan tinggalin (namakamu) sendirian disini, aku takut” ucap (namakamu) dalam
posisi tidur, Karel mengira itu hanya mimpi namun dugaannya salah itu bukan
mimpi, pipi (namakamu) mulali basah, airmata mulai keluar membasahi pipi
(namakamu) “gue mau sekolah (namakamu), nanti gue pulang sekolah langsung kita
kerumah sakit buat kemo yaa”
“(namakamu)
mau kakak ada disini, disamping (namakamu).(namakamu) ga mau kakak pergi dan
ninggalin (namakamu), (namakamu) mohon
kak, kakak temenin (namakamu) disini, aku mohon hari ini aja kakak jangan
sekolah dan jangan pergi tinggalin (namakamu)”
“ada aku
(namakamu), Karel mau sekolah, aku ya yang temanin kamu” Iqbaal, lagi-lagi pria
itu datang di waktu yang tepat, namun kali ini Iqbaal tidak mengenakan pakaian
seragam sekolah, melainkan baju bebas, (namakamu) mengangguk, Karel merasa lega
akan kedatangan Iqbaal sebagai ‘pahlawan kepagian’
“makasih
baal, tolong jaga (namakamu) ya. Waktu jam istirahat gue pulang kita kerumah
sakit (namakamu) harus kemo, makasih baal sekali lagi. Gue berangkat” Iqbaal
hanya mengangguk
----
(namakamu)
dan Iqbaal sedang asik bercanda, seakan Iqbaal mengajak (namakamu) untuk lupa
apa yang sedang (namakamu) alami
“Baal,
aku mau ngomong sama kamu”
“apa?
Ngomong aja, aku kan setia jadi pendengar kamu”
“kalau
misalkan akuu..” ucapan (namakamu) terhenti
“sstt,
aku ga mau bahas itu lagi, okey?” ucap Iqbaal menaruh jari telunjuknya tepat di
depan mulut (namakamu)
‘CLEK’
Pintu
kamar terbuka, Iqbaal mengetahui bahwa yang masuk kedalam kamar (namakamu) adalah
Karel, namun Karel tidak sendiri melainkan bersama Ayana
“kok udah
pulang?” tanya (namakamu) dengan muka datar
‘gue
sekarang harus sabar, perlahan ingatan (namakamu) akan hilang’ ucap Karel dalam
hati
“emang
kamu nggak inget? Tadi pagi Karel kan bilang waktu istirahat dia pulang mau
nganterin kamu kemo” balas Iqbaal dengan senyuman manisnya ‘ohh iya gue lupa,
kata Karel penyakit (namakamu) perlahan-lahan bisa buat (namakamu) hilang
ingatan, duhh maaf sayang’
“aku ga
inget tuh” balas (namakamu) memainkan ‘flaapy bird’ di ponselnya
“yaudah
berangkat yuk (namakamu), nanti temen kamu pada nyusul kalo sudah waktu pulang
sekolah” ajak Ayana dengan lembut
----
Mereka
berempat sudah sampai dirumah sakit dimana (namakamu) akan menjalankan first
kemoterapinya
---BERSAMBUNG---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar