Minggu, 16 Februari 2014

^PATIENCE^

---PART 7---
AUTHOR: DEASYANA PUTRISYA LARASATI
SORRY TYPO DAN GAJE



----
Semua sudah selesai menghabiskan makanan yang Iqbaal beli tadi, saat mereka semua sudah selesai makan, Iqbaal terdiam, memandangi tubuh (namakamu) dari sofa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ranjang tempat dimana (namakamu) tertidur ‘gue ga ngebayangin kalo (namakamu) nanti akan tidur selamanya, dan ga akan bangun lagi’ ucapnya dalam hati, matanya mulai  berair, tanpa sadar, ternyata sedari tadi Steffi memanggil namanya, namun Iqbaal tak sadar “Iqbaal! Isshh lo kenapa sih?”bentak Steffi, Iqbaal hanya menggeleng, “kita nginep kaan?” tanya Steffi, Iqbaal hanya mengangguk
----
Pagi harinya Iqbaal bangun lebih awal daripada yang lainnya, sepertinya hari ini (namakamu) sudah diperbolehkan pulang, Iqbaal berdiri di samping ranjang membelai pelan rambut (namakamu), Iqbaal memperhatikan seluet wajah (namakamu), baru pertama kali ia melihat wajah (namakamu) dengan jarak yang sangat dekat “eeh, (namakamu) udah bangun. Gimana? Udah agak enakan?” tanya Iqbaal pada (namakamu), (namakamu) tersenyum dan mengangguk, semua terbangun karena mendengar suara Iqbaal dan (namakamu) yang cekikikan “ahaha, maaf yaa gara-gara gue kalian jadi pada bangun” ucap (namakamu) dengan nafas yang tersenggal, mereka hanya mengangguk, tak merasa terganggu karena mellihat (namakamu) tertawa itu adalah suatu yang sangat berharga bagi mereka #apasih
Steffi merapikan keperluan (namakamau) yang dibawakan Karel kemarin, (namakamu) hanya sibuk memainkan ponselnya
‘CLEK’
Pintu kamar terbuka, Dinar memasuki kamar (namakamu) “Dinar?” ucap (namakamu) seraya tersenyum “udah boleh pulang?” (namakamu) mengangguk “lo Dinar temen Iqbaal? Darimana tau (namakamu) di rawat disini?” tanya Steffi yang sekarang sedang terduduk memainkan ponselnya “jadi gini..” ucap Dinar dan (namakamu) secara berbarengan “haha, lo aja deh..” balas (namakamu) seraya tersenyum, “ahaha, jadi gini, kemaren pagi tuh, gue lagi ketaman, ga sengaja gue ketemu (namakamu), terus yang gue ga sangka itu ternyata mama gue dokter yang nanganin dia. Jadi gue tau (namakamu) ada dikamar mana dari mama gue” balas Dinar dengan senyuman manisnya, Steffi mengangguk “(namakamu) pulang yuk, Karel udah ada di depan” ajak Steffi, (namakamu) hanya mengangguk, dan turun dari ranjang “emm, Steffi ya? Gue boleh ikut ke rumah (namakamu)?” tanya Dinar sambil membantu Steffi membawa peralatan (namakamu) “boleh” jawab Steffi singkat
----
“Rel, mau kemana? Ini kan bukan jalan pulang?” “emang lo mau pulang? Emang harus secepat itu?”
Sementara disisi lain Steffi berangkat dengan Dinar, Steffi sengaja karena ia tahu Dinar tidak akan tahu akan dibawa kemana (namakamu)
Disisi lain juga Iqbaal, Cassie, Melody, Ayana, dan Kiky sedang berada di sebuah taman dengan view sebuah danau, ada rumah pohon yang lumayan besar sedang menambahkan sedikit dekorasi untuk mempercantik lokasi
----
“Rel, lebay deh pake di tutup segala mata gue, lepasin dong aah galucu Rel” ringis (namakamu) dengan tanggan yang menggenggam erat tangan Karel, “sabar ajah, dikit lagi kita sampe (namakamu)”
Karel dan (namakamu) telah sampai didanau dimana lokasi penyambutan ‘kembalinya (namakamu) di lingkaran sejati’
“buka mata lo perlahan-lahan, 1...2...3...”
“taraaaaa, happy welcome back (namakamu)” ucap semuanya dengan wajah yang engggg-,- sumringah
“duh apaan sih, gini doang aja pake dibikin acara kaya gini, hahah, tapi makasih ya makasih, jadi makin gamau pisah deh dari kaliaan. Aaa love you all” ucap (namakamu) dengan senyuman manis yang mengembang di bibir mungilnya, semua sempat terdiam mendengar ucapan (namakamu) ‘jadi makin gamau pisah deh dari kalian’ mungkin didalam hati mereka berkata ‘gue juga gamau pisah sama lo secepat ini’  mungkin itu
Mereka bercanda tertawa, tanpa merasa terbebani adanya Dinar di antara mereka, bahkan Iqbaal sendiri tidak merasa cemburu (namakamu) lebih asik dengan Dinar, begitupun sebaliknya (namakamu) tidak merasa cemburu Iqbaal lebih asik dengan Steffi
‘ini saatnya, saat gue harus bilanng semua tentang penyakit yang (namakamu) derita’ ucap Karel dalam hati
“hmmm,(namakamu)” (namakamu) menoleh ke arah Karel dan menautkan alisnya
‘HENING’
Semua terrdiam karena mereka tau bahwa Karel akan memberi tahu apa yang sebenarnya, kecuali (namakamu) dia bingung mengapa semua terdiam dan menatapnya dengan tatapan yang aggh, tatapan ibaa “kenapa sih? Kok pada diem semuanya?” ucap (namakamu) heran
“lo-lo tau apa penyebabnya lo-lo sering muntah, pingsan, lupa ingatan, hilang pendengaran?” tanya Karel merubah posisi duduknya menjadi disamping kanan (namakamu) dan merangkulnya sedangkan Iqbaal duduk tepat disamping kirinya, (namakammu) menggeleng “ga tau, emang gue kenapa Rel? Gue ga punya penyakit apa-apa kan Rel? Jawab Rel” Karel terdiam
‘ya Allah, sungguh Karel nggak kuat kalau harus liat (namakamu) nangis nantinya’ gumam Karel ‘kamu punya penyakit (namakamu) dan itu.. ahh aku ga mau kehilangan kamu, aku sayang kamu’ ucap Iqbaal dalam hatinya ‘(namakamu) gue gamau liat lo nangis setelah lo tau apa yang lo derita selama ini, (namakamu) kuat yaah, Steffi sayang (namakamu)’
“Rel? Jawab, jangan diem ajah” ucap (namakamu) sedikit menundukan wajahnnya agar dapat menatap wajah Karel yang menunduk
“tapi lo janji, setelah lo tau semuanya lo ga boleh nangis, ga boleh nyerah kedepannya, dan satu hal yang terpenting buat lo.. lo harus tetap tersenyum apapun yang lo alami sekarang, gue—kita—semua janji bakal selalu ada buat lo, kapan pun itu, mau lo  lagi seneng, mau enggak kita janji akan selalu ada buat lo (namakamu)” “yaudah Rel, sekarang jelasin gue sakit apa sebenarnya” ucap (namakamu) dengan tatapan yang memohon
“tapi lo janji dulu”
“iya Karelll, gue janji ga akan nangis kalo denger apa yang gue derita”
“loo-lo sakitt, sa-sakit kanker otak (namakamu)”
‘DEG’
Seperti ada anak panah yang menusuk rongga paru-paru (namakamu) saat ini, mendengar  ucapan yang terlontar dari mulut Karel membuat (namakamu) ingin menangis sejadi-jadinya
“kan-kanker oo-otak Rel? Gue sakit kanker otak? Enggak Rel, ga mungkin enggak, gue ga mungkin Rel punya penyakit kanker enggak rel.. hkss” ucap (namakamu) dengan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya saat ini, semua mengangguk dan perlahan-lahan mulai mengeluarkan air matanya “iya (namakamu), gu-gue juga sempet ga percaya ka-kalo lo punya penyakit kanker otak, tapi itu (namakamu) kenyataannya” balas Karel dengan suara yang bergetar “Rel, lo bohong kan sama gue? Jujur Rel, jujur!! Gue ga suka kalo di bohongin kaya gini, gue gasuka!!” kini tangis (namakamu) mulai mengerang, mendengar dari erangan tangisan itu sepertinya cukup menyayat hati #plaak “(namakamu) udah jangan nangis, kan (namakamu) udah janji sama kita, kalo nanti (namakamu) udah tau apa yang (namakamu) derita (namakamu) ga akan nangis, jangan nangis yaa kakak sayang (namakamu) kakak udah anggap (namakamu) sebagai adik kakak sendiri, walaupun kakak Cuma pacarnya Karel. (namakamu) jangan nangis lagi ya, kakak tau kok (namakamu) itu orangnya tegar, kakak liat waktu kamu disakitin sama mantan kamu kakak liat kamu itu tegar, bahkan kamu bisa ngellupain dia secepat itu, jangan nangis ya (namakamu), kakak sayang (namakamu)” ucap Ayana mengelus puncak kepala (namakamu) “tapi kak, aku ga nyangka kalau aku bakal sakit separah ini, setau aku kalo orang yang punya penyakit kanker itu akan pergii, (namakamu) gamau kalo (namakamu) ninggalin Karel, Iqbaal, Steffi, Kiky, Cassie, sama yang lain, (namakamu) gamau kak, (namakamu) gamau..hks, Karel, waktu itu kenapa ga bilang kalo gue punya penyakit kanker? Kenapa? Haa? Karel, lo bilang sendiri kan kalo lo ga akan pernah bohong sama gue, dan ternyata apa? Lo bohong Rel!!hkss”
“(namakamu), Karel itu ga bohong, dia Cuma ga mau lo makin nge-drop, dia mau cerita sama lo saat kondisi lo udah stabil” timpal Steffi menyeka airmata (namakamu) yang masih terus meleleh “(namakamu) udah jangan nangis, kalo kamu nangis aku makin sedih (namakamu), jangan nangis yaa” ucap Iqbaal memeluk (namakamu), biarkan (namakamu) menangis dalam dekapan Iqbaal, kini baju yang Iqbaal kenakan basah akibat airmata (namakamu) yang terus mengalir “tapi aku ga percaya Baal,”
Mereka hanyut dalam suasana duka yang terjadi disaat ini, suasana yang semula ceria menjadi haru akibat Karel menjelaskan apa yang (namakamu) derita saat ini daaan... seterusnyaa
----
Malam harinya, (namakamu) masih berada didalam kamarnya, tidak berada disamping Karel yang tengah menonton televisi diruang tengah
‘CLEK’
Karel memasuki kamar (namakamu), terlihat (namakamu) yang sedang duduk dibalkon kamarnya dengan  tatapan kosong “(namakamu)” (namakamu) hanya menoleh kearah Karel tanpa adanya senyuman yang terukir dibibir manisnya saat ini, yang terlihat hanyalah mata yang sembab, pipi yang basah, dan adanya airmata yang jatuh dari mata indahnya
“jangan nangis ya, besok kita mulai kemoterapi biar lo cepet sembuh, tapi lo besok ga usah sekolah dulu ya, dokter belum ngizinin lo sekolah. Jangan nangis lagi, lo kan udah janji sama gue kalo lo udah tau lo ga akan nangis, iya kan? Senyumnya mana?” ucap Karel mengelus puncak kepala (namakamu), (namakamu) tersenyum mendengar ucapan Karel
‘CUP’
Satu ciuman mendarat mulus dikening (namakamu), ini adalah pertama kalinya Karel mencium (namakamu)
“minum obat yah, biar cepet sembuh”
“gue minum obat itu ga menjamin kalo gue akan sembuh Rel, enggak sama sekali” Karel hanya menggeleng mendengar (namakamu) berbicara seperti itu “hey, ga boleh ngomong gitu, kamu tau? Kadang tuhan memberikan kita mukzizat yang kadang kita sendiri tidak percaya menerimanya” ucap Iqbaal  yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar (namakamu)
“minum obat yah, aku mau liat princess aku sembuh, ga sakit lagi bebas dari penyakit, ga ngerepotin diri kamu juga kan? Coba bayangin kalo kamu sakit, kamu harus terus-terusan minum obat, terus kamu harus nahan rasa sakit kamu itu yang kadang kita-kita sendiri enggak tau, ayo (namakamu) minum obat yah? Kata kamu kamu ga mau kehilangan kita semua, begitupun kita, kita semua ga mau kehilangan kamu. Makanya kamu minum yah obatnya” pinta Iqbaal kepada (namakamu), (namakamu) menganggukan kepalanya Karel meninggalkan Iqbaal dan (namakamu), karena Karel tahu bahwa Iqbaal lah yang mampu merayu (namakamu)
----
Bulan  sudah kembali keperadabannya, kini mentarilah yang menggantikan tugas bulan pada pagi ini.
Seorang gadis cantik sedang tertidur pulas dalam ranjangnya, seperti tidak ingin diganggu mimpinya akibat harus sekolah
‘CLEK’
Pintu kamar terbuka, Karel mengintip dibalik pintu, ternyata adik kesayangannya masih tertidur
“cepet sembuh ya, gue ga mau kehilangan adek gue yang kedua kalinya (namakamu)” ucap Karel dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
---Flashback on---
Adiknya yang kedua kali? Apa maksudnya? Ya, sebenarnya Karel dan (namakamu) memiliki satu adik laki-laki yang bernama Bagas, (namakamu) dan Karel sangat menyayangi Bagas, namun tuhan lah yang lebih sayang hingga mengambil kembali adik mereka dalam penyakit tumor ganas yang merenggut nyawa Bagas.
---flashback off---
Saat Karel ingin beranjak pergi meninggalkan (namakamu), (namakamu) menggenggam erat tangan Karel
“jangan tinggalin (namakamu), (namakamu) mau sama Karel, (namakamu) sayang Karel. Jangan tinggalin (namakamu) sendirian disini, aku takut” ucap (namakamu) dalam posisi tidur, Karel mengira itu hanya mimpi namun dugaannya salah itu bukan mimpi, pipi (namakamu) mulali basah, airmata mulai keluar membasahi pipi (namakamu) “gue mau sekolah (namakamu), nanti gue pulang sekolah langsung kita kerumah sakit buat kemo yaa”
“(namakamu) mau kakak ada disini, disamping (namakamu).(namakamu) ga mau kakak pergi dan ninggalin (namakamu),  (namakamu) mohon kak, kakak temenin (namakamu) disini, aku mohon hari ini aja kakak jangan sekolah dan jangan pergi tinggalin (namakamu)”
“ada aku (namakamu), Karel mau sekolah, aku ya yang temanin kamu” Iqbaal, lagi-lagi pria itu datang di waktu yang tepat, namun kali ini Iqbaal tidak mengenakan pakaian seragam sekolah, melainkan baju bebas, (namakamu) mengangguk, Karel merasa lega akan kedatangan Iqbaal sebagai ‘pahlawan kepagian’
“makasih baal, tolong jaga (namakamu) ya. Waktu jam istirahat gue pulang kita kerumah sakit (namakamu) harus kemo, makasih baal sekali lagi. Gue berangkat” Iqbaal hanya mengangguk
----
(namakamu) dan Iqbaal sedang asik bercanda, seakan Iqbaal mengajak (namakamu) untuk lupa apa yang sedang (namakamu) alami
“Baal, aku mau ngomong sama kamu”
“apa? Ngomong aja, aku kan setia jadi pendengar kamu”
“kalau misalkan akuu..” ucapan (namakamu) terhenti
“sstt, aku ga mau bahas itu lagi, okey?” ucap Iqbaal menaruh jari telunjuknya tepat di depan mulut (namakamu)
‘CLEK’
Pintu kamar terbuka, Iqbaal mengetahui bahwa yang masuk kedalam kamar (namakamu) adalah Karel, namun Karel tidak sendiri melainkan bersama Ayana
“kok udah pulang?” tanya (namakamu) dengan muka datar
‘gue sekarang harus sabar, perlahan ingatan (namakamu) akan hilang’ ucap Karel dalam hati
“emang kamu nggak inget? Tadi pagi Karel kan bilang waktu istirahat dia pulang mau nganterin kamu kemo” balas Iqbaal dengan senyuman manisnya ‘ohh iya gue lupa, kata Karel penyakit (namakamu) perlahan-lahan bisa buat (namakamu) hilang ingatan, duhh maaf sayang’
“aku ga inget tuh” balas (namakamu) memainkan ‘flaapy bird’ di ponselnya
“yaudah berangkat yuk (namakamu), nanti temen kamu pada nyusul kalo sudah waktu pulang sekolah” ajak Ayana dengan lembut
----
Mereka berempat sudah sampai dirumah sakit dimana (namakamu) akan menjalankan first kemoterapinya

---BERSAMBUNG---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar