Minggu, 16 Februari 2014

^PATIENCE^

---PART 6---
AUTHOR: DEASYANA PUTRSYA LARASATI
SORRY TYPO DAN GAJE



“gue juga ga tau Baal. Tapi dia sering ngeluh ke gue kalo kepalanya pusing, udah gitu di kalo pusing muntah-muntah, bahkan dulu dia sempat ga masuk sekolah beberapa hari karena pendengaran, penglihatannnya terganggu”
‘CLEK’
Pintu ruang UGD terbuka, nampak seoranng dokter perempuan mengenakan masker dan stetoskop yang menggantung di kuping dan melepasnya “keluarga dari (namakamu)?” tanya ramah sang dokter “i-iya dok, saya kakaknya” “boleh ikut saya sebentar? Ada sesuatu yang harus saya beri tahu pada anda” ajak sang dokter, Karel memasuki ruang dokter, Iqbaal memasuki ruangan dimana (namakamu) dirawat, tak lama Steff, Cassie, Aldy, dan Kiky datang
“(namakamu) lo kenapa? Lo baik-baik aja kan? Ayo (namakamu) bangun” Iqbaal duduk di kursi samping ranjang (namakamu) terbaring, Aldy dan yang lainnya duduk di sofa yang jaraknya tidak jauh dari ranjang (namakamu)
‘CLEK’
Karel memasuki ruangan (namakamu), Iqbaal berdiri Karel duduk dimana Iqbaal duduk tadi
“gue harap kalian semua bisa jaga rahasia ini ya. (namakamu)....” Karel menggantungkan kalimatnya “(namakamu) kenapa Rel?” jawab Steffi dengan heran “(namakamu), sa-sakit kanker otak, dan itu udah stadium dua, gue harap kalian bisa ya jaga rahasia ini, gue mohon. Jangan sampai dia tau penyakitnya ini, biarin dia tau sendiri, bikin dia bahagia ya, jangan kecewain (namakamu)” tangis Karel pecah, Steffi merangkul Karel “jangan sedih, gue yakin (namakamu) tetap ada disamping lo selamanya, ga akan ninggallin kita secepat ini Rel, i believe (namakamu) will always be here with us forever” ucap Steffi menahan airmata yang sudah membendung di pelupuk matanya, semua menangis pada malam itu, dan (namakamu) pun belum sadarkan diri hingga sekarang
----
Dua hari sudah (namakamu) tidak masuk sekolah, terbaring lemah di tempat tidurnya, muntah-muntah, bahkan hampir seluruh tubuhnya melemah akibat adanya penyakit kanker otak yang (namakamu) derita.
Hari ini sekolah pulang agak cepat, karena ada salah satu dewan guru yang meninggal dunia, Iqbaal dan yang lainnya menjenguk (namakamu)
‘CLEK’
Pintu kamar (namakamu) terbuka, terlihat (namakamu) sedang tertidur dengan keadaan yang lemah “(namakamu), apa kabar?” tanya Steffi yang melihat keadaan sahabatnya yang sedang sakit parah, semua menahan airmata yang sedikit lagi menetes dan membanjiri pipi mereka, “(namakamu), bangun dong. Kita kangen sama lo” ucap Cassie dengan isak  tangisnya “(namakamu), gue kangen, ayo bangun. (namakamu)” ucap Iqbaal duduk disamping (namakamu) menggunakan kursi belajarnya (namakamu) dan menangis, jari (namakamu) bergerak semua tersentak, (namakamu) mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali “Iqbaal” desis (namakamu, “apa (namakamu)?” jawab Iqbaal, semua tersenyum melihat  (namakamu) sudah bangun dari tidurnya, “kok, kalian udah pulang? Kalian nggak sekolah?”jawab (namakamu) berusaha bangun, Karel membantu (namakamu) untuk bangun, ‘gue udah sehat kan? Besok gue masuk ya Rel” tanya (namakamu) “liat nanti ya, kalo lo udah bener-bener sehat, baru boleh masuk” balas Karel seraya tersenyum, “makan yuk, pasti belum makan kaan?” ucap Aldy sambil menunjukan tiga kantung plastik makanan dan minuman kesukaan (namakamu), (namakamu) mengangguk. Mereka semua senang karena melihat (namakamu) yang dapat tersenyum kembali, hari telah sore, mereka semua izin pulang terkecuali Iqbaal
“hmm, (namakamu)” (namakamu) menoleh kearah Iqbaal “apa Baal?”
“a-aku su-suka sama kamu, dari awal kita ga sengaja tabrakan, aku udah suka sama kamu. (namakamu) aku harap kamu mau anggap akku lebih dari teman” ucap Iqbaal dengan tatapan mata yang teduh, (namakamu) tersenyum “aku juga suka kamu Baal,tapii..” ucapan (namakamu) menggantung “tapi apa (namakamu)?” tanya Iqbaal heran “tapi apa kamu akan terus ada disamping aku? Apa kamu ada disaat aku butuh kamu? Apa kamu tau apa yang aku rasakan? Aku mau kamu jadi cowo terakhir aku Baal, aku mau kamu selamanya sama aku.” Ucap (namakamu) dengan isak tangisnya, entah apa sebabnya (namakamu) menangis “(namakamu), (namakamu) udah udah jangan nangis, aku akan berusaha ada di samping kamu, aku akan berusaha ada disaat kamu butuh aku, aku berusaha untuk bisa merasakan apa yang kamu rasa, aku janji ga akan nyakitin kamu, aku janji akan selamanya buat kamu, walaupun kita udah berpisah nantinya, karena kamu ada di sini. Di hati aku, dan itu ga akan ada yang dapat menggesernya, aku janji”ucap Iqbaal menaruh tangan (namakamu) tepat di dadanya, “aku sayang kamu Baal, aku ga mau pisah sama kamu” tangis (namakamu) kembali pecah dalam dekapan Iqbaal, Iqbaal membelai lembut rambut (namakamu) “iya (namakamu) sayang, aku janji. Aku pulang ya” (namakamu) mengangguk
----
Bulan menampakan dirinya tanpa malu, ditemani oleh beberapa bintang yang menghiasi langit malam hari ini
“(namakamu), makan yuk!” ajak Karel, (namakamu) menggeleng “tuh kan, katanya besok mau masuk, tapi kok ga mau makan?” ajak Karel lembut, (namakamu) mengangguk dan segera kebawah bersama Karel
----
Mentari mulai menampakan dirinya tanpa malu-malu, sinar yang memaksa untuk masuk kedalam kamar (namakamu) akhirnya terbebas karena kini dengan leluasa memancarkan cahanya kedalam kamar tersebut.
“hhuh, hari pertama sekolah setelah dua hari gue ga sekolah, semangat semangat” ucapnya menyemangati diri sendiri
Kini (namakamu) menuruni anak tangga rumahnya satu persatu “ciee, udah mulai masuk sekolah nnih, ciee ciee PMsnya mana?” ledek Karel “apasih Rel”
‘TIINNN...TINN’
“iqbaal again, always faithful pick you” ucap Karel dengan senyum liciknya “gue duluan Rel, bye” “tunggu-tunggu, bareng dong. Gue bawa motor deh, lo pake jaketnya ya”
----
Mereka bertiga sudah sampai di pekarangan sekolah “yuk” dengan gerakan yang sama Iqbaal dan Karel menggenggam tangan (namakamu) kanan dan kirinya,(namakamu) terkekeh
----
“morning, welcome back (namakamu)” Steffi dan teman-teman satu kelasnya membuat surprise yang menurutnya sangat berlebihan “ya ampun Steff, apaan sih. Gue Cuma ga masuk dua hari doanng loh, sampe segininya sihh” ucap (namakamu) dengan senyuman yang menggembang “gapapa kali, and congratulations for his ties with Iqbaal” (namakamu) hanya tersenyum dan Iqbaal merangkulnya
‘KRRIIINGGG..KRIINGG’
Bell masuk berbunyi, semua siswa kembali ketempat duduknya masing-masing
----
Bell istirahat telah berbunyi
“ke kantin yuk” ajak Cassie, (namakamu) memegangi keningnya yang semakin berat, pandangannya mulai kabur, dan semakin hitam
----
(namakamu) mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, pandangan yang ia lihat saat ini adalah ruangan putih, selimut, putih, bahkan pakaiannya sama sekali bukan pakaian miliknya, dilihat disisi kanannya seorang pria yang sangat ia kenali sedang  tertidur, dan disofa yang tidak jauh dari tempatnya berbaring tampak Iqbaal dan Steffi dengan posisi duduk mereka berdua tertidur, “eh, (namakamu) udah bangun?” tanya Steffi, tak lama Steffi menanyakan hal itu Karel dan Iqbaal terbangun, (namakamu) hanya mengangguk dan tersenyum, “minum obat yah” ucap Iqbaal, (namakamu) menggeleng, “aku gamau minum obat, karena aku gatau aku sakit apa sebenarnya. Rel, Gue sakit apa? Jawab Rel, kenapa dari dulu keluhan gue tetap sama? Pusing, pingsan, muntah, dan kadang gue gabisa denger ataupun ngeliat. Gue sakit apa Rel? Gue tau lo semua pasti nyembunyiin sesuatu kan? Sesuatu yang gue ga boleh tau” semua hanya melempar pandang, (namakamu) sibuk dengan isak tangisnya dan sesekali mengusap air mata  yang jatuh pada pipinya “(namakamu) ga sakit apa apa kok, berdoa ajah ya. Ga ada yang kita tutup-tutupi kok” fix ucapan Iqbaal mampu membuat tangis (namakamu) sempat mereda “(namakamu) lo percaya kan sama gue? Kita udah tujuh belas  tahun hidup, dan lo tau? Gue sama sekali ga pernah ngebohongin lo kan? Gue selalu cerita sama lo, apa yang gue rasa, begitupun sama lo. Mana (namakamu) yang dulu? Yang ga pernah ngomong yang macam-macam? (namakamu) tahu? Gue sayang sama lo dari dulu, dari lo lahir dan sampai sekatang, sampai nanti, dimana kita dipisahkan oleh maut yang merenggut nyawa kita, sekarang (namakamu) minum yah obatnya, jangan nangis, senyum dong, jelek deh kalo nangis” ucap Karel dengan senyuman  yang ‘FAKE’ dan menahan airmatanya agar tidak menetes, mungkin akhir-akhir ini Karel menjadi laki-laki yang cengeng karena semenjak mengetahui apa yang diderita adiknya, “nih gue senhyum buat lo semua” ucapnya seraya tersenyum “fake tuh, gue maunya yang asli, no fake smile” Karel mengusap puncak kepala (namakamu) dan mampu membuat (namakamu) tersenyum
----
Ke esokan harinya (namakmu) masih berada di rumah sakit, karena belum diperbolehkan pulang oleh dokter, (namakamu) memilih untuk pergi  ketaman rumah sakit karena cukup bosan memanng berada dikamar yang tidak ada apa apanya, namun tadi saat jam istirahat Steffi menSkype (namakamu), namun itu hanya sebentar.
(namakamu) duduk dibangku taman dengan earphone yang menggantung di telinganya
‘KRINGG..KRINGG’
Ponsel (namakamu) bergetar pertanda ada sesuatu yang masuk, ketika (namakamu) mengeceknya, ternyata itu skype dari Steffi, ada apa Steffi menskype (namakamu)? Padahal kan ini sedang jam pelajaran
“haii, kita yang disini kangen nihh. Lagi ngapain disana?”
“lagi duduk aja Steff disana gimana? Emang ga ada guru ya? Sampe-sampe lo bisa nngeskype gue?”
“iyaa, disini ga ada guru, oh yaa Iqbaal kangen nih sama lo”
“ahahah, baru gue tinggal sehari aja udah kangen, apalagi gue tinggal selamanya, aduhh. Yaudah mana Iqbaalnya?” Steffi yang mendengar (namakamu) berucap seperti itu hanya diam tak bergeming
“(namakamu), aku kangen. Aku nginep ya nanti malam disitu sama Steffi sama Karel juga, kan besok libur, yayaya.”
“terserah kamu aja, kalo emang ga ngerepotin ya gapapa, besok libur apa Baal?”
“besok kan sabtu (namakamu) sayanggg, masa ga inget sih?
“ahaha iya iya maaf abisnya aku Cuma bisa mikirin kamu doang sih, jaadi sampai lupa kalo besok sabtu, hahaha”
“yaudah ya, udah dulu ada guru nih, bye sayang”
Skype terputus
“(namakamu) ya?” ucap seorang pria berperawakan tinggi “ah, iya. Dinar ya? Temannya Iqbaal yang waktu itu ngundang temen-temen gue kan?” yap ternyata pria yang menyapanya adalah Dinar, Dinar mengangguk “bolehkan gue duduk disini?”tanyanya, (namakamu) mengangguk “kok lo bisa ada disini sih?” Dinar memecahkan keheningan “gue aja gatau kenapa gue bisa ada disini” balasnya dengan cuek, Dinar yang mendengarnya hanya terkekeh “lo sendiri ngapain ada disini?” “gue ada disini lagi jenguk saudara gue, dia dirawat disini” (namakamu) hanya mengangguk dan tersenyum “yaudah gue balik duluan ya, gue mau nemuin dokter yang nanganin gue” “iya”
----
‘TOK TOK TOK’
(namakamu) menemui dokter yang menanganinya saat ini
“permisi dok, saya (namakamu) pasien yang dokter tangani, dok sebenarnya saya mengidap penyakit apa?” tanya (namakamu) pada sang dokter, dengan tatapan ibanya. “loh, memang kamu tidak tahu nak? Kamu itu mengidap penyakit..” kalimat sang dokter terhenti karena kini ada seseorang yang masuk kedalam ruangan dokter, jadi dengan terpaksa sang dokter memberhentikan kalimatnya “eh Dinar, ada apa kesini?” “mau ngecek aja ma” ‘Ma?’ gumam (namakamu) dalam hati “oh iya Dinar, ini (namakamu), pasien yang mama ceritakan waktu itu. “(namakamu)?” “Dinar?” ucap mereka tak menyangka “loh, kalian sudah saling kenal? Kenal (namakamu) dari mana nar?” “(namakamu) itu temennya Iqbaal loh ma, mama inget kan Iqbaal temen Dinar yang pindah sekolah belum lama ini?” “iya tau, yang pakai behel itu kan?” Dinar mengangguk “waktu Dinar ulangtahun, Dinar minta Iqbaal buat bawa teman-temannya, makanya Dinar bisa kenal sama (namakamu), dan barusan kita ketemu ditaman ma” ucap Dinar santai, (namakamu) hanya mengangguk “y-yaudah dok, saya keluar dulu ya. Permisi dok, Dinar” dokter dan Dinar mengangguk “ma, (namakamu) sakit apa? Dinar kasian liat dia ma. Kayanya dia punya penyakit parah ya ma?” mama Dinar hanya mengangguk, “(namakamu) itu mengidap penyakit kanker otak stadium dua, perkembangan kankernya sangat cepat, setiap minggu bisa saja bertambah, ataupun bulan. Dinar, walaupun kamu belum kenal sepenuhnya dengan (namakamu), mama harap kamu bisa ya buat (namakamu) bahagia” ucap mama Dinar dengan senyuman manisnya ‘jadi (namakamu) punya kanker otak?’
----
Waktu pulang sekolah telah tiba, saat (namakamu) sedang tertidur, Iqbaal, Steffi, Karel, dan Aldy memasuki kamar (namakamu).
‘(namakamu) aku ada disini, dihati kamu. Cepat sembuh ya, aku sayang kamu’
“gue ke kantin ya mau beli makanan buat kalian, belum pada makan siang kan?” tanya Iqbaal kepada Karel, Steffi, dan Aldy, semua menggeleng, dengan cepat Iqbaal keluar kamar dan menuju kantin
‘BRUK’
Iqbaal bertabrakan dengan seseorang “so-sorry” ucap Iqbaal saat mendongakan kepalanya “Dinar? Eh lo bro. Ngapain lo disini?” “gue? Disini? Nungguin saudara gue yang sakit sekalian ke mama gue aja Baal, kan mama gue disini” “ohh? Ohh iya ya, duh gue lupa” ucap Iqbaal dengan senyuman manisnya “ lo sendiri ngaapain?” “gue jagain cewe gue (namakamu) dia sakit” tiba-tiba wajah Iqbaal menunduk mengingat penyakit yang berada dalam tubuh (namakamu) “gue tau bro, mama gue cerita semua tentang penyakit yang (namakamu) derita, kebetulan tadi pas gue keruangan mama gue ada (namakamu), gue gatau mau ngapain, dan ada apa dia kesana. Strong bro, gue bakal bantuin lo buat (namakamu) tetap bahagia, walaupun ga selamanya, gue duluan ya” Iqbaal hanya mengangguk dan tersenyum
----
Semua sudah selesai menghabiskan makanan yang Iqbaal beli tadi, saat mereka semua sudah selesai makan, Iqbaal terdiam, memandangi tubuh (namakamu) dari sofa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ranjang tempat dimana (namakamu) tertidur ‘gue ga ngebayangin kalo (namakamu) nanti akan tidur selamanya, dan ga akan bangun lagi’ ucapnya dalam hati, matanya mulai  berair, tanpa sadar, ternyata sedari tadi Steffi memanggil namanya, namun Iqbaal tak sadar 

---BERSAMBUNG---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar