~WAITING~
author : Deasyana Putrisya Larasati
'BRUMM... BRUMM'
suara raungan motor terdengar di halaman depan rumah
"shhh, siapa sihh? pagi-pagi udah ngegas motor gede banget? kaya ga peernah ngegas motor aja deh ah, gue aja ga sampe gitu-gitu banget" ucap seorang gadis berperawakan tinggi, putih, rambut yang panjang, seraya menuruni anak tangga rumahnya satu persatu, dengan menggunakan seragam sekolah SMAnya
"shutt, Kak Iqbaal, bisa nggak sih ga usah kenceng-kenceng gitu ngegasnya? (namakamu) kan keberisikan kak" dengusnya sebal, yap ternyata yang menggas motor dengan kencang adalah Iqbaal, kakak laki-laki (namakamu)
"ada apa sih? kok udah ribut pagi-pagi gini?" ucap sang bunda menghampiri adik kakak yang menurutnya sangat jarang berantem, bahkan sering.
"ini loh Bun, Iqbaal lagi ngestater motor, eh (namakamu) dateng, katanya Iqbaal berisik. padahal coba liat kalo dia lagi nyetater motor, debu pada kedalem semua kan, Bun" ucap Kakaknya dengan santai, Bunda yang mendengarnya hanya tertawa
"yaudah kalian berangkat, nih (namakamu) jaket sama kunci motor udah abang ambilin" ucap Dinar, ternyata (namakamu) dan Iqbaal bukan hanya dua bersaudara melainkan tiga bersaudara, dan (namakamu) lah anak yang paling kecil
"makasih, bangg" balas (namakamu) seraya tersenyum kecil
^^^^
Iqbaal dan (namakamu) sudah sampai di pekaranggan sekolah.
'gila, (namakamu) bawa ninja lagi' gumam seorang pria berrambut cepak, *bayanginKarelaja..
"woii, Rel? lo gue panggilin juga dari tadi, maah nggak nyaut, senyum-senyum sendiri lagi" ucap Bryant, salah satu sahabat Karel dan (namakamu), (namakamu) memang lebih senang bergaul dengan laki-laki daripada perempuan, tapi ada satu teman perempuan yang masuk kedalam club (namakamu)'s yaitu Steffi.
Iqbaal dan (namakamu) jalan beriringan menuju kelasnya masing-masing
"ehh (namakamu), belajar yang bener. jangan ngomongin motor mulu sama Karel, Bryant, Steffi. awas kalo nilainya jelek lagi, motor ada ditangan gue"(namakamu) tak menggubris ucapan kakaknya
"pagii (namakamu), bawa motor ya hari ini?" tanya Steffi pada (namakamu) yang tengah menaruh tasnya diatas meja, (namakamu) tersenyum dan mengangguk
^^^^
bell sudah berbunyi sebanyak tiga kali, pertanda kegiatan belajar mengajar sudah tuntas semua
"jalan nggak?" lirik Steffi pada temannya yang lagi sibuk merapihkan bukunya
"tanya Bryant sama Karel dulu, Steff"
"kenapa? mau jalan? ayo kita jalan, gue bosen dirumah terus" tindas Bryant, Karel yang melihatnya hanya menautkan keningnya
mereka berempat sudah sampai disebuah cafe andalan mereka, Steffi, dan Bryant asik berbicara karena mereka adalah sepasang kekasih, biasa lah 'cinta di awali dengan persahabatan, tetappi belum tentu cinta di akhiri dengan persahabatan'
"ehh, lo berdua kapan mau punya pacar? ga ngiri ngeliat gue sama Steffi berduaan, eh lo berdua malah ngarem aja diemm gitu" ucap Bryant dengan wajah yang menahan tawanya
"ga, nanti aja.." ucap Karel, dan (namakamu) secara berbarengan namun menggantung
"ehmm, ciee barengan ngomongnya sehati nih. wkwk" ledek Steffi dan mulai merangkul (namakamu), (namakamu) hanya menunduk, menutupi semburat merah diwajahnya.
"gue suka sama lo (namakamu)" ucap Karel dengan santai, (namakamu) menoleh tidak percaya. "why? i'm really love you, would you be my girlfriend?" tanya Karel dengan tatapan teduhnya, "amm, yes i will be your girlfriend" balas (namakamu) dengan senyuman manisnya, Bryant dan Steffi yang melihat adegan itu sempat terkejut, melihat apa yang Karel lakukan sangat mendadak "mendadak tapi pasti" bisik Karel tepat ditelinga Bryant
^^^^
detik berganti menit
menit berganti jam
jam berganti hari
hari berganti bulan
bulan ini bulan September, tepat dimana Karel dan (namakamu) menginjak tiga bulan berpacaran, awalnya hubungannya baik-baik saja, tapi semenjak Karel mengikuti club motor di Senayan membuat waktunya untuk berpacaran dengan (namakamu) sangat jarang, bahkan untuk memberi kabar saja Karel sering tidak sempat, waktu untuk berkumpul dengan sahabat-sahabatnya pun jadi sangat berkurang. (namakamu) bisa memberi pengertian pada Karel, tapi ternyata karel sama sekali tidak menghargai penantian (namakamu), (namakamu) tetap menunggu, entah kapan Karel akan kembali bersamanya, dengan waktu yang tak pasti tetapi itu pasti
^^^^
"(namakamu), makan yuk, lo kan belum makan" ajak Iqbaal dan Dinar yang memasuki kamar (namakamu) berbarengan, (namakamu) hanya menggeleng "nanti kamu sakit, kalo kamu sakit abang main sama siapa?" ajak Dinar
"percuma bang, kalo (namakamu) makan ga buat Karel inget (namakamu) lagi kan? mendingan (namakamu) ga usah makan sekalian, biar cepet meninggal, terus Karel bebas deh mau inget apa enggak sama (namakamu) lagi" ucapannya mampu membuat Iqbaal dan Dinar menatap tajam kearah (namakamu)
"heyy, (namakamu) lo ga boleh ngomong kaya gitu, gue, Bunda, Papa, Abang, itu pada sayang sama lo, termasuk Steffi, Bryant dan Karel" balas Iqbaal merangkul (namakamu)
"tapi kak, dia sekarang udah cuek banget sama (namakamu), (namakamu) cape tapi (namakamu) sayang" ucap (namakam) mulai menitihkan airmatanya
"ade nya Iqbaal sama Dinar nggak boleh nangis, harus kuat, tegar, kan (namakamu) sendiri yang bilang, kalo kamu mau jadi perempuan tegar. strong sayangg" ucap Dinar menatap (namakamu) lembut, (namakamu) tersenyum, Dinar dan Iqbaal adalah kakak yang sangat baik menurut (namakamu), mereka dapat membuju (namakamu) yang moodnya sedang ancur, bahkan buruk sekali
^^^
1 minggu berjalan mulus..
2 minggu berjalan mulus
3 minggu kemudian...
"hmm, jalan yuk, gue udah lama banget nggak jalan sama kalian, kangen kalian, apalagi (namakamu) jalan yuk, please" rengek Karel
'kemana aja kamu? aku kangen kamu rel'
"kemana aja lo bro, baru inget lo sama kita? setelah lo cuekin kita akhir-akhir ini, setelah lo anggap kita udah ga berguna lagi di hidup lo, gue jadi males anggap lo temen gue lagi!!" bentak Bryant, mulai mengayunkan kakinya keluar kelas, diikuti Steffi dan juga (namakamu), namun dengan cepat Karel menggenggam tangan (namakamu) dan berbisik
"jangan pernah anggap orang yang kamu cintai nyuekin kamu berarti sudah tidak perduli, ada sebuah makna dibalik kecuekan tersebut" *ganyambung, saat (namakamu) memberontak untuk melepaskan genggaman tangan Karel, Iqbaal datang.
"lepasin tangan ade gue, jangan pernah anggap ade gue cewe lo lagi. belum puas apa lo nyakitin ade gue? setelah lo akhir-akhir ini nyuekin ade gue yang notabene adalah cewe lo sendiri dan sahabat lo, Steffi dan Bryant. Karel, inget yeah kalo lo nembak ade gue cuma buat main-main, mendingan lo ga usah bilang suka sama sekali kalo hasilnya cuma nyakitin!! lepasin! (namakamu) ayo kita pulang" ajak Iqbaal dengan paksa.
^^^^
Iqbaal dan (namakamu) sedang berada diperjalanan pulang, kali ini (namakamu) tidak bawa motor, karena kondisinya yang kurang baik, dan itupun perintah dari Dinar agar Iqbaal yang memboncengnya..
"(namakamu), udah jangan nangis. nangisin cowo kaya gitu ga berguna" (namakamu) hanya mengangguk dan tersenyum menatap Iqbaal melalui kaca spion motor... saat ingin berbelok ke arah kiri..
'BRUUK'
motor Iqbaal terjatuh setelah menghantam trotoar, (namakamu) terjatuh helm yang ia kenakan tercopot karena tidak dikaitkan, alhasil kepalannya terbentur trotoar dengan sangat keras, Iqbaal ikut terjatuh namun kepalanya tidak terkena terotoar, ada beberapa bercak darah di trotoar, sedangkan dijalanan Iqbaal sedang meringis kesakitan, ia berusaha menolong (namakamu), namun tidak bisa
"IBAALLLL!!!(NAMAKAMUUU)" teriak seorang laki-laki dari kejauhan, Iqbaal mengetahui suara itu, suara Dinar, yap Dinar ada disini, berharap Dinar membawanya dan (namakamu) menuju rumah sakit
^^^^
satu jam sudah berlalu, Bunda, Dinar, Steffi, Bryant, dan Karel sedang menunggu kabar bagaimana keadaan (namakamu), dan Iqbaal
'CLEK'
pintu dimana (namakamu) ditangani terbuka, seorang perempuan menggunakan jas berwarna putih keluar, membuka masker yang ia kenakan
"keluarga Iqbaal dan (namakamu)" tanya sang dokter pada Bunda, Bunda menganggukan kepalanya
"keadaan Iqbaal tidak apa-apa, hanya ada sedikit luka-luka pada tubuhnya tapi tidak parah, lain halnya dengan (namakamu), ia mengalami benturan yang sangat keras, bahkan robekan dikepalanya cukup besar, ada pecahan kaca spion yang masuk dalam kornea matanya, (namakamu) kekurangan darah, stok darah golongan (namakamu) terbatas,bahkan kurang. maaf" sang dokter menggelengkan kepalanya
"saya siap dok buat donorin darah saya, saya siap" ucap Karel, Karel? mengapa ia sepeduli itu? entahlah, sepertinnya Karel masih menyayangi (namakamu)
"maaf nak, tidak semudah itu mendonorkan darah, anda harus diperiksa terlebih dahulu sebelum mendonorkan darah. maaf.. kami sudah sebisa mungkin membantu (namakamu), tapi maaf, nyaawanya sudah tidak bisa tertolong" ucap sang dokter menundukan wajahnya, tangis Bunda mulai pecah, begitupun Dinar, Steffi terisak mendengar ucapan sang dokter, Karel hanya terduduk pasrah, lemas, tak berdaya, dadanya seperti dihantam sebuah bambu runcing yang membuatnya sulit bernafas, ia merasa bersalah karena dua bulan kemarin sudah menyia-nyiakan (namakamu), matanya terpejam membayangkan wajah cantik (namakamu), menerima kenyataan yang jauh lebih pahit dibanding apa yang (namakamu) rasakan
"Karel" suara itu terdengar lembut ditelinga Karel, Karel tersentak "(namakamu)" "(namakamu) udah nggak ada rel, udah tenang disana, maafin gue soal tadi pas pulang sekolah, gue khilaf karena semalem dia nangis didepan gue sama Dinar, sekarang lo mau liat (namakamu)? semua ada didalam" ajak Iqbaal dengan senyuman manisnya, dan dengan matanya yang sembab
saat Karel memasuki ruangan dimana (namakamu) sudah tidur dengan tenang, terbujur kaku ia disana, dibalut kain putih panjang.
"(namakamu), maafin aku dua bulan belakangan ini aku udah lupa sama kamu, Steffi, dan Bryant, aku sayang kamu (namakamu) jangan tinggalin aku, aku sayang kamu (namakamuuu) aku mohon jangan tinggalin aku. hkss, (NAMAKAMUUUU) AKU MOHON!!!"
"Karel, udah jangan nangis, coba ikhlasin (namakamu) gue sama Iqbaal dan yang lainnya juga sedih harus ditinggal (namakamu)"
"ta-tapi kak, aku nyesel udah buat dia terus nungguin aku, aku emang ga punya perasaan kak, maaf kak kalo aku udah bikin (namakamu) depresi. jujur kak, aku sayang dia" ucap Karel dengan nafas yang tersenggal, airmatanya makin membasahi pipinya
"iyaiya, kakak maafin, tapi kakak mohon, ikhlasin (namakamu), buat dia tenang disana rel, kakak mohon", Karel mengangguk walau sebenarnya hatinya enggan untuk melepaskan kepergian (namakamu)
^^^^
1 bulan
2bulan
2bulan
dan seterusnya..
hari ini tepat satu tahun dimana hubungannya dengan (namakamu), Karel masih setia mengunjungi makam (namakamu), Karel masih menganggap bahwa (namakamu) masih ada disekitarnya, setiap bulan ia mengunjungi makan (namakamu) hanya untuk mengucapkan anniversary pada (namakamu), bahkan jika Karel kangen dengan (namakamu), Karel mengunjunginya kapan pun itu.
---TAMAT---
Kadang, kita akan selalu menunggu, kapan pun itu. Tetapi, jangan sia-siakan orang yang menunggu mu dengan waktu yang cukup lama. Rasa dapat dengan cepat berubah, kadang sayang, namun karena harus menunggu diwaktu yang cukup lama, rasa sayang berubah menjadi benci, dan rasa benci sangat sulit untuk mengembalikan rasa sayang. Jangan sia-siakan dia yang menunggu mu, hargai perasaan seseorang yang menunggu mu, karena hanya diri mu yang dapat membuat seseorang rela menunggu dalam jangka waktu yang sangat panjang, karena orang yang dicintai lah yang sangat berharga bagi kami yang menunggu mu..
-Deasyana Putrisya Larasati
hahahaha
BalasHapus