Sabtu, 13 Desember 2014

A bestfriend story

-Deandra Kireina-

Mentari pagi mengusik tidur lelap ku, aku mendengar suara derap langkah kaki seseorang  yaap!! Biar ku tebak pasti itu  Bunda yang datang untuk membangunkan ku.

"Ana, bangun sayang. Udah pagi, nanti kamu telat lohh." Ucap Bunda yang sedang membuka gordyn kamar ku. Aku merenggangkan otot otot ku yang kaku.
"Mmm, iya bun.." ucap ku, aku membangun kan tubuh ku lalu duduk dipinggiran tempat tidur untuk mengumpulkan semua tenaga dan nyawa ku yang mungkin belum sepenuhnya terkumpul.

Lima belas menit kemudian aku telah selesai membenahi diriku, dan sudah berpakaian lengkap seragam sekolah.

"Pagu bun, pagi ka Vero.." ucapku,  pasti kalian bertanya - tanya kemana Ayah ku, Ayah ku sedang bertugas ke luar negeri mengurusi bisnisnya disana, ya aku bisa dibilang sangat berkecukupan, tetapi aku bukan tipikal orang yang sering menghambur-hamburkan uang untuk berbelanja seperti kebanyakan orang orang kaya yang lainnya.

"Cepetan abisin makanannya, abis itu berangkat takut telat" ucap Bunda.

"Iya bund, ana bewangkat.duwu@*#*¥%*¥-#-#8;" ucap ku karena mulutku penuh dengan roti.

"Pergi dulu, bun." Ucap Ka Vero.

Ka Vero dan aku berjalan berdampingan menusuri koridor sekolah.

"Ana!!" Teriak seseorang dari arah belakang, yaapp itu adalah Callista Arthamevia atau Calis salah satu sahabat Ana dari dirinya SD hingga sekarang SMA.

"Eh Calis, tumben udah dateng. Biasanya si Naomi duluan yang dateng, pasti ada apa apa nih kaka tau. Belum ngerjain PR kan kamu?" ucap Ka Vero.

"Heheh, iya kak belum ngerjain PR aku mau liat ke Ana, karena aku tau Ana pasti udahan. Iya kan, na?" Ucap Calis cengengesan tidak jelas.

"Apaan, gue aja belum ngerjain. Malah gue mau nyontek ke Naomi, dia jago Math nya, lah gue Biologi doang pahamnya." Ucap Ana.

"Yah elo----" belum sempat Calis menyelesaikan kalimatnya tiba tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang, sehingga membuat dirinya kaget.

"Ehh, Devan ihh bikin gue kaget aja lo." Ucap Calis memukul sedikit lengan Devan namun Devan hanya tertawa.

"Yaelah, masih pagi cooy udah pacaran aja.." ucap Ka Vero dengan nada kesal, namun hanya bercanda.

"Haha, cemburu ye lo? Makanya buru tembak, kasian dia lo gantung mulu dikasih harapan yang ga pasti" ucap Devan. Ya mereka memang kakak kelas kami namun kami sudah menganggapnya sebagai kakak kami, mau pun sebaliknya.

Aku --Ana-- memiliki dua orang sahabat yang sangat aku sayangi. Naomi Putridelia Wilianatama, dia gadis yang mempunya nama yang begitu cantik pasti kalian juga mengira bahwa Naomi ini adalah gadis yang modis, minimalis dan sebagainya. Tapi tebakan kalian salah, Naomui si pemilik nama yang cantik ini sama sekali tidak memiliki kepribadian yang sangat sangat menunjukan bahwa dirinya perempuan, ia memilimi postur tubuh yang tinggo dan juga ideal bagi kaum wanita, namun ia sangat berkepribadian seperti layaknya seorang lelaki, rambut cepak, memakai motor gede, dan apapun itu yang menjurus kearah laki laki. Tetapi dia aering memotivasi kami ketika kami sedang galau anak abg labil. Tapi dia tidak lesbi ya, dia masih normal dan setau ku sekarang dia sedang memiliki gebetan, adik kelas kami.
Sahabat ku kedua, Callista Arthamevia Winatama, aku mengenalnya dari aku SD, hingga sekarang kita kelas 2SMA dan sialnya selalu sekelas, bayangkan saja, aku sudah 11tahun bersama Calis, namun tak ada rasa bosan diantara kita. Lain halnya dengan Naomi, Callista atau Calis memiliki kepribadian yang sangat mewanitakan ah apalag entah itu namanya. Ia selalu berpakaian modis layaknya seorang model, ahh ya aku lupa dia memang model sejak balita.-. Sehingga wajar saja dia selalu memperhatikan perawatan, Calis menjalin hubungan dengan Devan sejak kelas 9 diSMP, saat itu Ka Devan sedang dalam acara ProomNight kelulusannya dan siapa sangka ternyata ka Devan menyatakan cintanya pada Calis pada malam itu, perfect.

'Bugh'

Aku tersadar dari lamunan ku, ternyata seseorang dari lapangan basket tak sengaja melemparkan bolanya tepat dikepalaku, sasaran.

"Upss, so-sorry gue ga sengaja" ucap seseorang yang ku yakini tak sengaja melempar bolanya tepat ke kepala ku.

"Aww, i-iya gapapa kok" ucap ku sambil meringis memegangi kepala ku yang terasa berdenyut.

"Ehemm.. makanya jangan bengong, kesambet bola kan akhirnya, untung bola bukan setan" ucap Ka Vero yang sudah jauh beberapa langkah dari tempat ku kini berada.

"Ma-maaf ya ka cewenya ga sengaja kena bola tadi" ucap lelaki yang berada disamping ku. Apa dia bilang? Cewe? Gue cewenya ka Vero? Ingin sekali rasanya aku menjedotkan kepalanya ke tembok.

"Ohehee, sorry dia bukan cewe gue, dia addk gue. Iya iya gapapa lain kali hati-hati" ucap ka Vero menyunggingkan sebuah senyuman manis.

"Damar, woiii maar, damaaarrr, amaaarr cepetaaan coooy" teriak beberapa temannya yang berada dilapangan menunggu bolanya. Apa tadi aku ga salah denger? Namanya Damar? Ya ampun ga teng sekali dia.


BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar