Sabtu, 13 Desember 2014

A Bestfriend Story

"Ehemm.. makanya jangan bengong, kesambet bola kan akhirnya, untung bola bukan setan" ucap Ka Vero yang sudah jauh beberapa langkah dari tempat ku kini berada.

"Ma-maaf ya ka cewenya ga sengaja kena bola tadi" ucap lelaki yang berada disamping ku. Apa dia bilang? Cewe? Gue cewenya ka Vero? Ingin sekali rasanya aku menjedotkan kepalanya ke tembok.

"Ohehee, sorry dia bukan cewe gue, dia addk gue. Iya iya gapapa lain kali hati-hati" ucap ka Vero menyunggingkan sebuah senyuman manis.

"Damar, woiii maar, damaaarrr, amaaarr cepetaaan coooy" teriak beberapa temannya yang berada dilapangan menunggu bolanya. Apa tadi aku ga salah denger? Namanya Damar? Ya ampun ganteng sekali dia.

---

-Author-

Bel pulang sekolah sudah berbunyi sedari 20 menit yang lalu, namun Ana, Naomi, Calis, Ka Vero, dan Devan masih berada diarea sekolah di cafetaria.

"Coy, main yuk" ucap Calis sambil sesekali menyeruput es jeruknya.

"Kemana? Gue mau capoera, Lis" ucap Naomi,

"Jam berapa emang? Bayarin gue yaaa" ucap Ana memasang puppy eyes nya.

"Ahh lo, duit lo berjibun di atm. Masih aja minta bayarinn" ucap Calis, Devan hanya tertawa kecil mendengar ucapan Calis

---

-Damar Athalahasya-

"Marr, lo lama banget tadi ngambil bolanga tadi"Daniel berucap seperti itu kepada ku, aku hanya terkekeh kecil.

"Suk dia sama adeknya ka Ver, si Ana tuh, niel.." Farid main asal cerocos sajaa.-. Apa dia bilang? Adiknya ka Vero? Namanya Ana? Apa aku ga salah dengar? Entahlah.

"Diem aja lo, mar. Suka lo sama Ana?" Ucap Farid kepada ku.

"Tadi lo bilang nama adenya Ka Vero namanya siapa, rid?" Ucap ku, Farid dan Daniel menatapku dengan tatapan yang....errrr seperti pembunuh.
Ka Andreas Vernando Pittaraga, atau Ka Vero nama kecilnya. Siapa sih yang tak kenal dengan Ka Vero? Ketua osis disekolahku yang sangat tenar, bukan hanya sebagai ketua osis saja, tetapi dia juga menjabat sebagai ketua tim basket. Mungkin hampir 99,9% kaum wanita yang sekolah disini akan terperangah melihat senyumnya yang menawan. Ehh gue ngomong gini gue ga homo yeh..

Tuk

"Aduuuh, eh lo gila sakit gila, rid" ucapku meringis memegangi kening ku yang berdenyut akibat Farid memukul keningku menggunakan sumpit.

"Lagian lo, bengong mulu. Kenapa sih? Masih bingung yeh siapa nama ade nya ka Vero?" Ucap Daniel menunjukan wajahnya yang seperti sedang menahn ketawa.

"Enggaklah, ihh ya kali..." ucap ku, mengalihkan pandangan ku ketempat yang lebih..mengasikan.

Aku menemukan pemandangan yang sangat mengasikan, adem rasanya melihat pemandangan yang satu ini. Aku menemukannya, Ka Vero, dan Ka Devan serta tiga orang perempuan salah satunya...Ana. Aku tersenyum sendiri melihat keadaan Ana yang hanya beda beberapa meja dari mejaku. Farid dan Daniel melihat kearah tatapan ku, dan...1...2...3...

"Uhuk..uhuk..uhuk, rid bagi minum dong.. gue keselek sendal bang udin.. uhukk uhukk" dan, benar saja apa aku bilang, Daniel dan Farid pasti akan mengerjaiku, sial.

"Ini nih, niel. Minum cepetan gue takut lo mati!!" Ucap Farid dengan suara lantang, memalukan. Aku yakin, pasti ada seseorang yang memperhatikan meja kami, aku sedikit menengok, dan benar saja disebrang sana Ka Vero, Ka Devan dan tiga orang perempuan melihat kearah meja kamu dengan tatapan tanda tanya, aku hanya memberi kode sebuah senyuman dan kedua tangan yang ku jadikan satu serta menenunduk🙏🙏 seperti sebuah kode meminta maaf. Pantas saja mereka mengalihkan pandangan kekami suasana cafetaria ini sangat sepi hanya kita ber 8 saja yang menempati cafetaria ini.

-Deandra Kireina-

Apa aku tidak salah lihat tadi? Aku melihay seseorang yang tadi pagi tak sengaja melemparkan bola basket ke kepala ku. Damar. Yapp!! Kini aku mengetahui namanya, nama depan doang si. Ya setidaknya aku tahu namanya.

"Na, ki, rei, ana, kireina.. ya ampun.. DEANDRA KIREINA PATTIRAGA!!" ucap ka Vero memanggil ku. Aku kaget, sangat kaget. Sialan sekali kaka ku ini.

"Apan sih ka? Gausah ngagetin kali.." ucap ku sambil meraih ponselku yang tergeletak diatas meja dan selanjutnya berdiri.

"Ayo pulang, lo mau nginep disini, na?" Ucap Naomi memasang wajah ganasnya, aku takut melihatnya.

"Lagian gabilang daritadi kalo mau pulang.." ucap ku agak' sedikit kesal.

"Gabilang gimana, kita dari tadi udah manggil-manggil lo, tapi lo aja budek, malah bengong disitu" ucap Calis, memainkan ujung rambutnya.

"Ahhelah, tau deh." Ucap ku sangat' kesal, dan menghentakan kaki ku kelantai dengan keras dan jalan mendahului mereka menuju mobil ku, ralat mobil ka Vero.

---

-Author-

Mentari pagi telah membangun kan seorang gadis berparas cantik ini. Ia sedang membenahi dirinya didepan sebuah cermin yang tingginya setara dengan tubuhnya.

"Pagiii..." ucapnya, menyapa Bunda, dan Ka Vero yang sudah memulai sarapan.

Hening.

"Bun, Bunda tau ga? Ana lagi suka sama orang tau.." ucap Ka Vero membuyarkan keheningan.

"Ohhya? Bagus dong suka sama orang, masa iya suka sama binatang sih, Ver. Kamu mah kalo ngomong yang bener aja kali" ucap Bunda

"Iya maksudku juga begitu,bun."
"Orangnya cakep sih bun, putih, tinggi, cakep dehh.. tapi sayang matanya sipit, sampe sampe kemaren ngelempar bola basket ke Ana." Lanjut Ka Vero, aku hanya menunduk, menyembunyikan semburat merah yang pasti sedang berada dipipi ku.

"Ngelempar bola basket?" Tanya Bunda dengan tatapan penuh selidik.

"Iyaa, bun-----

"Ka Vero ayo berangkat udah siang ini telat kita bisa bisa..." ucap Ana sambil menarik lengan Ka Vero.


BERSAMBUNG DULU YEAAA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar