Selasa, 10 Februari 2015

Friendzone.

-Prolog-



Daylesford, Victoria



Angin dengan kencangnya membelai rambut berwarna blonde milik seorang gadis yang berjalan disebuah jembatan kayu di pinggir danau Daylesford dengan langkahnya yang gontai. Angin mengibarkan rambutnya dengan cantik, dan kini ia merasakan angin telah membuat tubuhnya kedinginan. Dingin yang menusuk.



"tidak banyak yang berubah dari tempat ini.." gumamnya, menatap daerah disekelilingnya.



Dress coat berwarna coklat muda yang dipadukan dengan skiny jeans sepertinya tidak cukup untuk menghangatkan dirinya ketika suhu di Victoria sudah mencapai 0 derajat pada pagi ini. Bahkan karena pikirannya yang kacau serta suasana hatinya yang tidak baik ia sampai lupa membawa jaket dan sarung tangan untuk menghangatkan dirinya ketika keluar dari apartemen itu.

Gadis itu berhenti dan terduduk tepat di ujung jembatan tersebut. Ia memangdangi dasar danau yang sudah membeku. Bahkan airmatanya saja dapat membeku seketika ketika suhu du Victoria sudah mencapai 0 derajat lebih.

Bahkan disaat seperti ini siapa yang mau keluar rumah disaaat suhu disini sudah mencapai 0 derajat?

Seorang pria berdiri tepat dibelakang gadis itu. Ia berjalan mendekati gadis tersebut tanpa meninggalkan suara, tujuannya agar gadis itu tidak lari apabila mengetahui ada dirinya disana.

Lelaki itu mengulurkan tangannya tepat disamping wajah gadis tersebut.

"maaf.." ucap lelaki tersebut. Gadis itu menatap tangannya, lalu beralih menatapnya kini.

"what are you doing here?" ucap gadis itu, dengan mata sembabnya.

"kamu tahu aku mengkhawatirkan mu?... Amat sangat mengkhawatirkan mu.." ucap lelaki tersebut, mengecup dan memelik tubuh gadis yang ada dihadapannya kini.

"pakai ini, sebelum kamu membeku disini.." ucapnya memberikan jaket serta syal untuk gadis dihadapannya.

"thank you..." ucap gadis itu, masih dengan mata sembabnya.




---chapter1---

-This is my bestfriend-



-Nadine Axalea Patriska-


Aku melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi aku pakai selama perjalanan dari London sampai Jakarta, aku melirik jam tangan putih yang menempel tepat ditangan sebelah kanan ku. Masih pukul 8 tetapi udara disini sudah sangat panas dan menyengat kulit tubuhku yang sekarang hanya aku balut dengan celana jeans yang sangat pendek, baju kaos putih polos, dan kemeja kotak kotak yang aku biarkan keluar hingga menutupi celana pendekku, dan rambut yang aku cepol dengan asal asalan. Bahkan sepertinya aku sekarang lebih pantas dipanggil Anak Gelandangan. HAHA~

Aku menggeret dua koper besar ku yang baru saja keluar dari roll bagasi, aku segera keluar dan menuju parkiran tepat dimana kakak ku menjemputku. Aku menemukannya!! Itu Ka Farel, kakak ku yang sudah aku tinggal selama kurang lebih 4 tahun lamanya. Aku memanggilnya, tetapi dia tidak mendengar ku, sepertinya dia sedang menerima telepon. Kelas berapa sekarang dia ya? Ah ya, dia sudah kelas 3 SMA, dan aku baru lulus SMP dan akan masuk kesekolah SMA ka Farel.

"Kak Farel!!" teriak ku. Dia tidak mendengar ku.

"KAK FAREL!!" sudah kedua kalinya aku memanggil namanya, namun tetap saja aku tidak diresponnya, dengan berat hati aku harus menghampirinya.


"kak--

"eh Axa, kapan keluar? kok ga panggil kakak aja? kan bisa kakak samper kamu kesana" ucap Ka Farel balik badan menghadap ku, dan memasukan ponselnya kedalam saku celananya.

"kakak aja yang ga denger, sibuk sama telepon nya, Axa daritadi manggilin kakak disebrang, tapi kaka ga denger, yaduah Axa samperin aja.." ucap ku memanyunkan bibir depan ku.

"ohhalah, sorry sorry tadi gue abis angkat telepon dari Mario." ucap Ka Farel tersenyum lembut kearah ku, dan mengaca-acak rambutku dengan seenak jidatnya.

"Mario?" tanyaku, sembari menatap mata coklat milik kak Farel, kak Farel mengangguk dan tersenyum.

"iya Mario, sahabat kecil lo" ucap Ka Farel memainkan kembali ponselnya.

"dia kangen banget sama lo katanya, Makanya ayo cepetan kerumah, emang lo ga kangen mama papa apa?" ucap Ka Farel menarik tanganku agar segera memasuki mobilnya, ralat: mobil yang dibelikan papa untuk kak Farel-_-



---




Mobil Kak Farel sudah memasuki halaman rumah, tidak ada sedikitpun yang berubah dari rumah ini, Hanya saja sepertinya rumah ini baru di cat ulang, bau catnya masih kentara.

Aku memasuki rumah, tanpa babibubebo aku langsung berteriak didalam rumah ini, seperti seorang anak yang baru memiliki rumah.-.

Betapa rindunya aku dengan suasana rumah ini, anjing husky miliki ku dan kak Farel sudah sangat besar sekarang, sudang semampai dengan ku apabila aku berjongkok, burung hantu milik ka Farel juga sudah sangat jinak, mengingat dulu sebelum aku pindah ke London bersama nenek disana burung hantu sialan itu pernah menggigit tangan ku hingga aku menanggis hingga seluruh konplek dapat mendengarnya. Ingat, itu saat aku masih kelas 6 sekolah dasar ya!-,-

"home sweet home, i miss you.." teriak ku, aku menaiki tangga dan menuju kamar ku.

Masih sama. Aku berjalan mendekati sekumpulan bingkai bingkai foto foto ku, Disana ada foto mama, papa, aku dan Ka farel, dan... Mario saat kami sedang lulus lulusan SD. Setelah puas bernostalgia di kamar tercintah, aku mengingat betapa manjanya aku ketika lulus SD dan segera ingin pindah ke London bersama Nenek, karena satu alasan aku tidak mau ikut MOS di Indonesia yang menurutku sangatlah aneh.

Aku turun kebawah menuju ruang makan untuk segera makan karena aku menempuh perjalanan yang sangat panjang, 13 jam dan tanpa transit itu membuat perut ku saat ini sangat meronta-ronta meminta agar segera di isi oleh makanan.

Dari ruang makan sini, aku dapat mendengar suara Kak Farel yang sedang berbicara dengan seseorang, tetapi aku tidak tahu dengan siapa ia berbicara. Aku segera menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang sedang berbicara dengan kak Farel.

Aku melihat Kak Farel sedang bersama seseorang, aku tidak tahu dia siapa, tetapi melihat wajahnya, senyumnya, tatapannya, itu 'dejavu' seperti aku sudah mengenalnya sangat lama. Aku tidak kenal dia, tapi kenapa hati ku sangat senang melihat dirinya kini?

"Axa..?" ucap pria tersebut, dia mengetahui namaku tetapi aku tidak mengetahui namnaya. Ini aneh, sangat aneh.

Aku hanya menatapnya heran, bingung, dan...freak-_- aku butuh penjelasan kali ini Kak Farel. Aku masih diam mematung ditempat ku, pria ini sangat menggugah iman sekali, wajahnya tampan, postur tubuh yang tinggi, rambunya yang cepak, matanya yang coklat, apalagi sekarang ia hanya mengenakan celana jeans pendek selutut dan kaos yang sangat membentuk tubuh indahnya. Dia siapa?

"woii.. melongo aja!" ucap Kak Farel mengagetkan ku, aku salah tingkah.

"lo ga inget gue, xa?" tanya pria yang sedang bersama Kak Farel tersebut.
(read: xa di bacanya sa, dan axa dibacanya aksa)

"aduuuh, adek guee baru juga 3 tahun pindah. Udah lupa aja sama sahabatnya, sahabat lama lagi.." ucap Kak Farel.


DEG


Ada apa ini? Apa maksud Kak Farel tadi?
Apa mungkin ini... Mario Pujasandika? Sahabat kecil ku dulu?

Ah sial! Aku tidak bisa mengenalinya sekarang, penampilannya sangat berbeda dengan Mario 3 tahun lalu..



-BERSAMBUNG-




@asyalarasxx

Tidak ada komentar:

Posting Komentar