Senin, 16 Februari 2015

Friendzone.

-Chapter 6-
-Impossible, it's not real-



-Author-


Mentari pagi memunculkan dirinya tanpa malu-malu, menampilkan seberkas cahaya berkilau yang dapat masuk ke kamar gadis ini melalui celah-celah jendela kamarnya.

Sesekali ia menggerak-gerakan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, menaikan selimutnya hingga atas kepala, lalu menurunkan kembali selimutnya, bolak-balik mematikan jam weker yang sudah membangunkannya kurang lebih sebanyak 15 kali, dan selama 15 kali ia matikan.


"hoaaam..."

"jam berapa, nih?"

"ohh jam 11.."

"HAH?! JAM 11?!!" teriak gadis itu histeris, gadis itu mengambil ponselnya yang berada di nakas samping tempat tidurnya, lalu menghubungi seseorang.


"hallo, Cath.."
"hallo, Xa?"
"Cath, lo dimana?"
"gue, di Cafe d'Amarrylis nih, kenapa Xa?"
"jangan bilang lo mau gangguin gue sama Vergo ngedate lagi dehh"
"hehe, tau aja lo mah. Wkwkwkk, gue nyusul lo ya?"
"emm.."
"ya Cath ya? Gue nyusul lo sama Vergo, ya?"
"yaudah iya. Gue ada di meja nomor 15 ya, xa"
"ohh, okay"

Sudah 2 hari sekolah Tunas Bangsa diliburkan, karena dewan guru sedang ada pertemuan dengan dewan guru Tunas Bangsa di daerah lainnya, sekolah diliburkan 5hari, dan selama 2 hari ini kerjaan Axa hanya, makan, tidur, main xbox, on path, on instagram, on facebook, on twitter, on ask,fm, on snapchat, dan...merusak acara date Cath, dan Vergo. Ya, mereka berdua pacaran dua hari setelah Kak Fathan menyatakan cintanya kepada Axa. Omong-omong Kak Fathan, selama dua hari ini Kak Fathan menghilang bak ditelan bumi, dia jarang menghubungi Axa, bahkan untuk membalas Line, Whatsapp, sms, Axa saja pun tidak. Axa takut, Axa cemas. dan Axa khawatir, tapi ia melampiaskan itu semua dengan cara bermain xbox dengan Kak Farel, dan mengurusi anjing-anjingnya yang sudah sangat lama tidak ia ajak bermain.

"ga pergi lo dek?" ucap Kak Farel yang tiba-tiba masuk ke kamar Axa.

"umm? ini baru mau otw kamar mandi, mau nyusulin Cath sama Vergo.. hehe" jawab Axa, mengikat rambutnya asal asalan.

"yaelah, ganggu orang pacaran mulu lo. btw, cowo lo kemana sih? Jarang kelitan sekarang.." ucap Kak Farel, Axa tidak menjawab ia hanya menaikan kedua bahunya, dan tersenyum. simple.

"baper lo dek.."

"bodo amat ah, gue mah udah ga urus dia lagi"

"serius? udah nggak urus dia tapi lo semalem nangis-nangis sambil narik baju kesayangan gue, jadi melar dah tuh baju" jawab Kak Farel.

"yaelah, ga usah ungkit ungkit juga kali kak. Kan jadi malu sendiri.."

"ajak Mario lohh, ntar lo disangka jones lagi sama pengunjung cafe yang lain" ucap Kak Farel memeluk bantal yang berada di atas kasur.

"idih, ngapain. Mario mah apa atuh, dia udah lupa sama gue gara gara ada si cewenya yang manja itu" ucap Axa, mengambil handuk di belakang lemari.

"ciee, cemburu lu yak?!"

"apaan dah? Gue cemburu sama mereka? Sorry sorry to say!"

"udah lu keluar napa gue mau mandi nih coyy"

"haha, oke oke."



---



'drrt'

"kenapa?" ucap Kak Farel.

"kaaak, jangan izinin Axa pergi, kak please.. Aku mohon" ucap Cath yang menghubungi Farel

"kenapa?"

"udah ihh kakak mah ga usah izinin Axa pergi pokoknya! Gue udah nelpon dia berkali kali tapi ga di angkat!!"

"apan sih, gue ga ngerti"

"kak, aku ngeliat..nggg.. aku ngeliat kak Fathan disini kak sama Ernita kak pacarnya Mario.. duh"

Setelah mendengar penjelasan dari Cath, Farel mendengar pintu kamar sebelahnya tertutup. Kamar Axa, belum ia mematikan panggilannya Farel sudah keluar kamar terlebih dahulu.

"mau kemana?" tanya Farel, mendadak dingin.

"lah, tadi kan lo nyuruh gue main, kak. Yaudah gue mau main lah"

"bentar lagi mau ujan, gue anter lo ya?"

"enggak usah kak, gue takut ganggu lo. Gue jalan sendiri aja, bye kak"

"xa, tungg.. ah sial!"


"tuut.." nada panggilan yang hanya ia -Mario- dengar sekarang.

"hallo."

"hallo, yo!"

"kenapa, bang?"

"keluar rumah sekarang yo, kita ikutin Axa.. gue gamau terjadi sesuatu sama lo, dan...Axa"

"lo kenapa sih bang?"

"udah cepetan beres beres! gue tunggu dibawah"

"okesip"



"ada apan sih?" ucap Mario setelah keluar dari pagar rumahnya.

"ikut gue sekarang, Axa dalam bahaya!"

Dalam sekejap mobil Farel sudah dapat menyusul taxi yang Axa naiki.


Axa berusaha mencari-cari meja bernomor 15 yang tadi disebutkan oleh Cath di telepon, tapi Axa tidak langsung menuju kemeja yang di tunjuk oleh salah satu pegawai cafe, melainkan ia menuju ke VIP room yang berada didepan nya kini. Ia merasa tidak asing lagi dengan orang yang berada di dalam ruangan itu, mereka.. berciuman. Kak Fathan. Ia memasuki ruangan tersebut dengan perlahan, dan sebisa mungkin tidak meninggalkan suara.

"kak Fathan?" ucap Axa dengan nada yang bergetar, dan mata yang berkaca-kaca.

"A-xa?" ucap Kak Fathan, dan... dia! Dia kekasih Mario.

"enggak, ini nggak seperti yang kamu pikirkan, Xa. Kamu salah paham" ucap Kak Fathan mendekati Axa

"ayok kita pulang" ucap Kak Mario datang tiba-tiba di ikuti oleh Mario, Cath dan Vergo.

"apan sih, rel?! Gue mau jelasin ke Axa!"

"ga ada yang perlu di jelasin lagi. Semua udah ke bukti kan sekarang? Selama dua hari ini lo ga ngabarin gue dan ternyata lo? Lo pergi sama dia?! sorry kita putus!" ucap Mario saat Ernita mulai membuka mulutnya.

Axa berdiri tepat dibelakang tubuh Kak Farel.

"mau jelasin apan lagi?" ucap kak Farel lembut namun penuh tantangan.

"LO SIAPA?!!"

"GUE? NADINE AXALEA PATRISKA, DIA ADEK GUE URUSAN LO SAMA DIA JADI URUSAN GUE JUGA!!" ucap Kak Farel.

Fathan kaget, setahunya Farel itu saudaranya Axa, bukan kakaknya. Ada apa ini?

"ayo kita pulang!" ucap Kak Farel menarik tangan Axa dengan sedikit paksaan.



---


Sesampainya dirumah Axa langsung menuruni mobil kak Farel tanpa mengucapkan apapun, dan tanpa memperdulikan Mario yang berjalan dibelakangnya.


"you okey?" ucap Cath menahan lengan Axa

"gue capek" jawab Axa melepaskan tangan Cath yang berada di tangannya lalu menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Cath memandang Vergo, Mario, dan Kak Farel secara bersamaan dengan tatapan rasa bersalahnya.

"sorry..." ucap Cath lirih, menatap pintu berwarna putih didepannya.

"dia butuh waktu buat nenangin diri, Cath. Nggak apa apa, ini bukan salah lo kok." ucap Kak Farel menyunggingkan senyuman manis ke Cath, karena sungguh Cath mempunyai rasa bersalah atas kejadian ini.


Setelah menutup pintunya rapat-rapat Axa jatuh terduduk dibalik pintu kamarnya. Satu per satu bulir air mata mulai menetes membasahi pipinya dengan deras. Isakannya mulai menggema ke seluruh kamarnya. Mungkin terlalu sakit untuk merasakan patah hati sebelum hubungannya dengan Kak Fathan baik baik saja sebelum kejadian ini.

Diluar kamar Axa, Cath semakin dalam memandang pintu kamar Axa dengan tatapan memilukan, begitu juga dengan Vergo, Mario, dan Kak Farel. Farel tahu Axa tetaplah Axa. Seberapa besar cobaan pun ia akan selalu tutupi dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya, tapi percayalah, kejadian patah hati ini tidak dapat Axa tutupi dengan senyuman manis, dan fake smile sekalipun. Seberapa keras ia tetap memaksakan diri untuk kuat, ia akan tetap rapuh didalam, bahkan lebih rapuh dari sehelai daun di musim gugur.





-BERSAMBUNG-



@asyalarasxx





Tidak ada komentar:

Posting Komentar